Membandunglah

Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum
Aromanya sedang baik, tanah sehabis hujan adalah yang selalu kami sukai ketika sedang berada di Bandung. Aku sampai disana, kalau tak salah siang. Dengan berpura-pura bilang ke dia “Maaf ya kayaknyak gak jadi, ini lagi sama orang tua”. Klik. Telfon dia tutup, sepertinya  sebel. Akunya malah tertawa sambil melajukan motorku menuju Bandung, tentu saja aku cuma berpura-pura supaya seperti di film-film Holywood, aku sudah sampai di daerah Jl. Sersan bajuri, sudah dekat dengan Setiabudhi, iya, Bandung yang kami inginkan adalah setiabudhi yang sedang dingin, disana pula aku bisa memetik pepohonan rindu yang setiap bulan kutanam bibitnya. Pasundan bukan hanya tempat bagi kami, ia adalah saksi sejarah bagaiamana kami berjuang merawat rindu.

Motorku berhenti di daerah Universitas Pasundan, gang h. ridho  itu adalah gang kecil yang tak muat dimasuki oleh mobil, hanya untuk 2 motor bahkan kalau kau berjalan sedikit lagi kepenghujung jalan hanya muat untuk satu motor, sampailah aku di depan kosanya dia, sebuah gerbang hitam yang kulitnya mulai keriput berkarat, tinggal menunggu waktu untuk keropos berantakan, kosannya ada di lantai dua, dan lantai itu khusus bagi para penghuni wanita semua. Setiap kali kami berada dikosan, kami selalu membuka pintu untuk tidak terjadi fitnah dan juga untuk tidak tergoda setan kami sering mengundang temanya, si Atun  namanya. Dan aku masuk, kubuka pintunya dengan teburu-buru untuk mengangetkannya tanpa perlu ketuk  lalu mengucapkan salam. Dan dia sedang temerunggut selimutan, perempuan itu diam, matanya kaget sebentar,  kini muka cantiknya penuh dengan air yang menjadi suangai di pelupuk matanya, mukanya pun memerah sepias-piasnya ikan cupang sehabis diadu, jelek tapi masih tetap cantik, cemberut termanyu bibirnya dilipa-lipat penuh kesal. Lalu dia teriaak “aaaaaa sebeeel” sambil mengusap-ngusap air mata. Dan aku tertawa

“Gue sholat dulu, jem” kataku.

“sana lu” katanya seperti mengusir.

Selesai sholat, dia masih kesel, mukanya masih menggerutu tak menentu, itu lah sebab kenapa aku sering rindu dan kangen ke dia, jika sebalnya datang selalu bikin rindu dan ingin bertemu terus. Dia masih tiduran aja dikasurnya, dan aku dibawa maksudnya dilantai mulai menyalakan laptop untuk menonton film india judulnya “dangal”, kata banyak orang filmnya bagus dan rating sudah sampai 9.2 di imbd. Aku nonton film sambil nunggu ijem sebalnya reda. 

“Masa’ ada pacar ke bandung di diemin aja?” Kataku sambil fokus ke film.

“Bodo ah”. Sepertinya mulai permanen sebelnya

“Siapa yang bodo, jem?” kataku

“Au ah gelap” katanya

“Gak mati lampu ih jem”

“Apaansih” lalu dia menutup dirinya dengan selimut.

Aku fokus nonton film, karena memang filmnya seru, kisah tentang seorang anak perempuan kampung  yangmenjaid atlet professional gulat tingkat internasional.

“Jem, malam jadi ya ke alun-alun kota Bandung?”

“Gak tahu, gue mau rapat dulu ke Kampus, nanti pulang magrib”

“Oalah”

Habis itu ia mulai mereda, kini selimutnya sudah dibuka dan ia ikut bergabung nonton film bersamaku, kali ini mukanya mulai cerah kembali, riang kembali, mungkin karena ia sadar bahwa tak boleh mendiamkan tamu, apalagi tamunya itu pacarnya sendiri. Sekarang ia duduk disampingku, tapi tak focus dengan film, melainkan bermain dengan handphonenya. “gak suka film india” katanya begitu. Oh, yasudah selera tak bisa dipaksa-paksakan, pacaran bukan untuk saling menyamakan dengan apa yang aku suka, melainkan tetap pada apa yang aku suka dan bisa menghargai apa yang dia suka. Saling mengasihi, saling menjaga perbedaan lalu bersatu dalam padu padan, yang bernama asmara. Aku selalu suka dengan dia, meskipun kini ia tanpa memakai bedak, walau sekarang ia hanya memakai baju cokelat dan kerudung putih layaknya anak smp, imut-imut kadang beda tipis dengan amit amit. Aku selalu suka dengan dia, dari bagaimana ia berbicara, ketika ia sedang sebal menggerutu tak ada henti, saat ia menjadi pecemburu yang amatir, ia tak pernah berhasil cemburu selalu saja aku menemukan celah untuk ia tetap riang dan kembali menjadi ijem yang kusayang. Aku selalu suka dengan dia, dari bagaimana ia menjelaskan darimana dirinya, suatu hari ia pernah bercerita tentang perkuliahannya, ia ingin sekali menajdi dokter tapi kenyataan menjerumuskan dia menjadi seorang anak pangan, yang setiap hari beurusan dengan segala teknis makanan, dari bakterinya, dari pengelolanya, dan darimana saja.  Ia bercerita bahwa ia tak pernah menyesal kenapa harus berada di posisi yang sedang di jalankannya sekarang, ia selalu mensyukuri apa yang ia dapat sekarang. Aku selalu suka dengan dia ketika bercerita panjang dan lebar, dan hanya ia tuangkan kepada kuseorang. Sesederhana itu kebahagiaan kami, membuatku merasa istimewa menjadi lelakinya.

Ia pergi untuk ikut kumpulan himpunan dikampusnya. Dan aku hanya seorang diri dikosan sambil melihat balon foil ucapan HBD Ijem 20 yang pernah aku buat untuknya. Tentang ini kamu perlu tahu, malam itu aku datang seorang diri dari Jakarta, berniat menggunakan bus namun baru 20 menit sebelum berangkat aku baru mengetahui bahwa  jalan tol sedang diperbaiki dan semua bus yang berukuran lebih besar dari mobil pribadi harus melewati jalan biasa dan kemungkinan sampai di terminal leuwi panjang sekitar 6 jam bahkan mungkin lebih. Dan aku mengendurkan diri untuk menaiki bus, aku mulai cari tiket kereta, dari berbagai website yang ada tujuan terminal kota Bandung, dan semuanya kehabisan ketika aku telah periksa sekian lama. Aku pun kecewa dengan diriku sendiri yang kala itu serba melakukan sesuatu dengan konsep mendadak, semua persiapan telah ada dalam tasku, balon foil,  kado, double tip, dan yang lainnya. Tapi dengan itu, tidak menyurutkan apa yang  sedang kuperjuangkan, dengan modal nekat dan ingin mengucapkan kalimat sederhana selamat ulang tahun kepadanya, aku pergi ke Bandung naik motor dengan membawa segala macam, satu hal yang sedang kuharapkan, tak ada hujan hari itu, tak ada pula kecelakaan teknis semacam ban bocor dan pelbagai hal yang membuat terhambat perjalananku sekitar 6 jam lebih. 

Tak akan kuceritakan bagaimana aku berada dijalan ketika menuju ke Bandung, sebab tiba-tiba dengan secara tak sadar motorku sudah sampai di depan Masjid daerah kosannya, aku sudah membuat janji kongkalingkong dengan Atun, temannya. Atunlah  yang menyiapkan kue untuk itu. Malam sudah mulai beranjak, bulan sudah semkain terang, aingin mulai merubah arah dirinya, dan bintang kali ini satu persatu mulai memudar, menandakan akan turun hujan di tanah pasundan ini. Aku datang dan sampai ke kosan, dan melalukan hal yang sederhana seperti orang yang lakukan untuk mengucapkan ulang tahun kepada pacarnya, meniup api diatas lilin, berdoa sebelum meniup itu, memberi kado, berfoto-foto, memotong kue, dan mengucapkan selamat ulang tahun. Kalau kau bertanya aku menginap dimana selama bermain di kosanya, aku tak menginap satu kamar denganya, aku menginap di kamar kakaknya, mas hafis di lantai bawah. Sehabis itu adalah senyap yang berkumpul di angkasa malam itu, menjadi gumpalan yang sangat istimewa, membendung beberapa hal bahagia yang sedang kurasakan, berarak-arak menuju satu badan gelap kabut awan, dan semuanya itu dibanjurkan dalam rahmat rintik hujan, itu adalah rintiku, hujanku, hujan kami, dimana kau bisa rasakan bahagianya, bersama, selalu.



Azan sudah mulai berkemundangan, seraya aku ingin mengambil wudlu, dia pulang dari kampus
“Sholat heula, baru pergi” kataku

Nah, ini adalah perjalan pertama kami, dari sekian banyak agenda yang sudah kami buat jauh sebelum adanya hari ini. 

Bandung sedang bagus, memang rintik kecil sudah mulai menyirami Bandung yang sedang subur, seketika suasana menjadi sungguh dramatis, ada dua manusia di atas motor itu, melintasi jalan-jalan di Bandung, bersama rindu yang telah mereka tabung dan sedang mereka luangkan segalanya dalam malam itu. Kami mengitari Bandung, karena sempat tak tahu jalan, menggunakan waze tapi hanya untuk sementara karena Bandung begitu baik banyak arah tujuan yang diberikan di papan lalu lintas. Seperti biasa, yang aku lakukan adalah dengan menggeser sedikit spion kaca motor untuk bisa melihat rupa ijem ketika ia senyum, ketika ia marah gara-gara kungebut, ketika ia sebal, mukanya selalu berubah-ubah tapi itu yang selalu membuatku rindu ketika bersamanya. Malam ini, tak ada yang boleh mengganggu kami, bahkan rintik pun berhenti, ia takut menganggu asmara, sebab semua di dunia ini dicipatakan oleh itu.

Kami sampai di Alun-alun Bandung, mengitari jalan asia-afrika melihat beberapa pameran  pocong, valak, capt. America, kuntilanak dan banyak yang lainnya. Kami hanya jalan berdua, seperti semuanya milik kami, bercerita sambil berjalan, mendengarkan orang bercerita sambil mengomentarinya, duduk dipelantara asia afrika, menaku-nakutin ijem dengan pocong, menatap bunga-bungan di beranda alun-alun Masjid, memakan burger, kebab dan ketan goreng, bertanya apa saja yang biasa kami lakukan, dan melakukan banyak hal yang membuat kami merasakan bahwa kebahagiaan adalah bersumber dari kami, tak perlu dicari. Bahwa segalanya yang membuat kami riang dan sampai sejauh ini berjalan denganya adalah asmara yang kami jaga sebaik mungkin, sehebat mungkin, mengalahkan apa yang menghalangi rindu dan perasaan kami.

Lalu ia bertanya “Kalau besok kita tak menjadi kita lagi bagaimana?”

“Seperti bulan dan matahari, saling menerangi walau berbeda dimensi”kataku.

Dan dia tersenym, dan kepalanya bersandar di pundakku.

Malam itu sangat asik, tapi kami harus pulang, ternyata hujan sudah dendam kepada kami, mungkin ia cemburu dengan apa yang sedang kami lakukan malam itu, akhirnya kami kehuajanan dan lumayan basah.

~bersambung
Adalah sebuah kota dimana kerumunanya layak semut berbaris, menuntut keadilan kehidupan. Dimana kau bisa memanjakan tinjamu sedikit berharga disini, dimana air manimu pun harus dibayar saat kau mengeluarkannya. Adalah Kota yang ramai dan klakson bajaj menjadi sang juara jalanan. Jakarta. Tempat dimana Tuan Kelabu tinggal, ialah Rakhi namanya. Seorang lelaki bertinggi semampai dengan hidung mancung, kulit sawo matang penuh, wajahnya tak begitu  tampan tapi dengan ia tersenyum bisa saja ia buat perempuan disekitar rela membayar senyumannya itu. Rakhi, adalah manusia yang kelabu, penuh kelabu hidupnya, tak tentu arah, lintas sana-sini, ia tak pernah punya tujuan hidup kecuali merokok dan menulis nomaden di berbagai kafe, bahkan satu setanpun tak  ada yang tahu kemana ia akan jalani hidupnya, mengakhiri dengan surga atau ingin merantau saja ke neraka. Rakhi, hanya menjalani hidupnya, menjelajahi kehidupan penuh warna ini, lebih ingin saripati hidup, yang lebih, yang banyak. Dan itulah Rakhi, Tuan Kelabu yang akan kita kisahkan dalam cerita pilu ini. Mana ada yang tahu bahagia tersdia didalamnya? Ah, kau seperti Rakhi saja, nikmati saja.

ambil darisini


Jakarta sedang mendung kala itu, awan mulai pekat mengabu, memburu manusia-manusia yang tak membawa payung atau tak ingin berteduh, sesekali petir mulai satu persatu memainkan nadanya, seperti Do Re Mi Fa So La Si Do namun dinaikan satu tingkat minor, tapi sore di Jakarta tetap seperti itu, macet berhamburan, mobil-mobil bertumpu pada padatnya jalan, terkadang klakson menyaembara kesana-kemari seperti bersafari melewati kuping-kuping manusia. Namun itu adalah sore yang tak dipedulikan oleh Rakhi, ia tak takut hujan, tak takut macet, tak takut bising dan ramai. Sebab sore itu ia akan naik busway, untuk pertama kalinya, sebab motor kesayanganya ia sudah gadaikan kepada saudagar kaya raya asal Jawa Timur yang selalu memakai gelang rantai sampai 5 tumpuk di tangan kananya, belum lagi di tangan kirinya. Bukan tanpa alasan, Rakhi menggadaikan motor itu, untuk bisa membayar uang perkuliahan, 3 bulan jangka waktunya untuk bisa menebus kembali motor kesayanganya itu, jika tidak maka motornya akan tewas melayang di saudagar kaya raya asal Jawa Timur itu.

Sambil menyalakan rokok filter yang sedari tadi ia pegang, Rakhi menyusuri garis-garis jalan itu, mengikuti marka jalan menuju halte busway, adalah tempat dimana hal yang sama terjadi seperti yang terjadi di jalan raya kini, yaitu padat. Antrian pintu masuk itu sangat padat,  padahal itu sudah menggunakan sistem tap card, mudah, dan sangat tak memerlukan tenaga. Tapi tetap saja penuh. Rakhi hanya memerhatikan sambil memainkan asap rokoknya dan mulai menyalakan rokok episode keduanya untuk menunggu antrian itu sepi melompong. Tak berapa lama, mulai mengalir dan kosong, Rakhi melakaukan tap  dan masuk, lalu ia berpikir, apa yang tadi membuat manusia-manusia tanpa nama itu lama masuk ke halte busway? Mungkinkah mereka bepikir setelah mereka tap, aka nada mesin pendorong tubuh agar terlempar ke halte busway, atau mereka berpikir akan ada koin keluar setelah tap  itu. Ah entahlah, manusia disini menurut Rakhi: terlalu peduli pada peradaban, sehingga membuat dirinya menjadi harus berpikir bahwa peradaban melulu soal kemajuan, padahal tidak semuanya seprti itu.

Rakhi adalah perokok aktif, hampir satu hari ia bisa menghabiskan satu bungkus rokok, terkadang bisa satu setengah bungkus rokok filter atau mild(jika paru-parunya mulai terasa sakit). Namun Rakhi pun menghargai lingkungan, ketika ia tahu, disekitar halte busway itu tak ada yang merokok, ia langsung mematikannya dan tak lupa membuang puntugnya itu ke tong sampah. Ia menuju ke pintu ujung dan berniat duduk pada tempat tunggu disana, namun tak lama dari langkahnya itu, kemudian seorang perempuan itu, si Nona Kemayu, tiba-tiba menduduki tempat tunggu itu, anggun nian pakaian ia kala itu, kemeja putih dengan levis putih, dibalut rambut hitam yang sengaja digerai, ditambah oleh alis tebal dan mata cokelat, di tangan kananya tersimpan satu buku seperti makalah tugas, dan pada tangan kirinya sedang sibuk memainkan iphone-nya sambil menggantungkan sebuah earphone kepada kedua kupingnya itu, kini lengkap sudah, perempuan itu menjadi perempuan ideal dambaan lelaki macam Rakhi, sepatu converse yang ia pakai sengaja diinjak ujungnya seperti  perempuan masa kini, ia menunggu di tempat pintu yang sama dengan Rakhi. Entah apa yang sedang beputar-putar pada angkasa pikiran Rakhi, ia tiba-tiba saja mulai memerhatikan perempuan berbalut penuh putih dan memesona itu, entah apa yang sedang Rakhi pandang, namun satu hal yang tak luput dari mata Rakhi ketika melihat permepuan itu: adalah kalung salib yesus yang ia gantungkan pada lehernya.

Lalu, tiba-tiba dengan berani dan rasa penuh nekad, Rakhi  hampiri perempuan itu dengan lantang dan tegak berjalan lurus, karena Rakhi tahu ia sedang mendengarkan musik, maka sebelum memulai obrolan alangkah baiknya Rakhi sedikit menyentuh seperti menegor perempuan itu, lalu menyapa:

“Hey,kau tak pengap?” kata Rakhi sambil tersenyum penuh kecut.

“hah?” perempuan itu memastikan siapa yang barusan mengajak ngobrolnya, mungkinkah teman laman atau teman satu kampus?

“iya, kamu tak pengap?” Rakhi mengulang lagi pertanyaan itu sambil sedikit memulai senyuman klasik para lelaki

“maksudnya? Aku tak pengap, pengap kenapa emang?” Dasar nona kemayu, ia mulai meladeni lelaki kelabu itu.

“Bukannya kamu habis keluar dari karung Santa Clause?” Rakhi ketawa rintih

“Hah? Maksudnya, aku ini mukjizat?” Permepuan itu mulai tertawa sedikit, tak banyak

“iya semacam itu lah” Rakhi sambil sedikit tertawa.

“Kau kenapa sangat cantik, nona?” Rakhi menambahkan.

“hah nona?” Perempuan yang barsusan dipanggil Nona oleh Rakhi itu tertawa, dan mulai merah memalu

“boleh hari minggu, kuantar kau ke geraja?”

“Memangnya kita satu gereja?” kata perempuan itu sedikit bingung

“Tidak, aku ini muslim, tapi mengantar orang berbibadah itu kebaikan, bukan?” tambah Rakhi

“biar kau beribadah, dan aku beribadah juga di rumah Tuhanku, dekat gerejamu” tambah Rakhi lagi

“Maksudmu di  masjid?”

“iya betul, nona” Rakhi mulai nyaman berbicara

“mengapa aku harus percaya kalau kamu boleh mengantarku pergi ke gereja? Siapa tahu kau penculik?” Perempuan itu menatap heran

“sebab aku telah membuatmu bahagia” Rakhi tegas menjawab

“darimana?”

“itu kamu tertawa tadi, nona”

“tertawa bukan berarti bahagia, tuan”

“tapi kita akan menuju kesana, nona”

Perempuan itu diam, seperti sedang berpikir menerima tawaran Rakhi atau tidak, sebab tak banyak orang yang dapat dipercaya di kota metropolitian macam Jakarta ini, yang kau taruh tas sebentar saja akan hilang dalam waktu hitungan detik. Tak gampang pula percaya lelaki di kota macam Jakarta ini, yang kau anggap baik dan pantas menjadi imam saja bisa-bisa ia adalah penculik moral disini. Tak gampang percaya orang disini, maka dari itu, perempuan itu diam sebentar sambil mulai memerhatikan tubuh Rakhi, melihat matanya: kosong, yakin, atau pudar tak bermakna. Perempuan itu semakin bingung ketika tahu di kantung Rakhi ada sebungkus rokok filter yang sengaja Rakhi taru disitu agar gampang ketika merokok, dan lengkap dengan koreknya. Bagi perempuan itu, lelaki merokok harkatnya mulai turun satu derajat dimata, sebab baginya mereka yang merokok adalah mereka yang mulai menuntun dirinya menuju kematian. Tapi ia lihat lagi mata Rakhi, kali ini seperti terisi, serbuk keyakinan yang sedikit mengeristal disana

“aku belum bisa jawab sekarang” perempuan itu mulai melanjutkan percakapan

“jika besok atau lusa kita bertemu lagi, maka jawabannya adalah kau boleh antarku ke gereja” tambah lagi perempaun itu

“Oke, nona” Rakhi tersenyum kuda

“Kamu ambil jurusan apa?” perempuan itu mulai penasaran. WOW!

“Arsitektur, nona. Kalau kau?”

“Aku ambil Teknik Kimia” ucap perempuan itu

“Kita satu fakultas, nona”

“Iya” tak lama busway datang.


Perempuan itu naik terlebih dahulu, dan dalam hitungan beberapa detik busway itu telah penuh dan mulai menipis oksigen bersih di dalamnya. Rakhi tak sempat naik, kuulangi lagi, Rakhi tak suka manusia yang suka berkerumun, maka ia lebih baik menunggu busway selanjutnya datang, dan perempuan itu meninggalkannya, sambil berkata: semoga kita bertemu lagi, tuan. Tentulah Rakhi tertawa, mana ada perempuan selancang dia yang berani memanggil lelaki tak bertujuan arah ini sebagai sebutan Tuan, kau pikir aku ini apa? Kata Rakhi dalam hati. Tapi itu adalah sore yang baik ketika hujan sudah mulai turun hilir demi hilir lalu menjadi hulu yang menggerentak dan ramai-ramai datangnya, tanpa ampun, tanpa konfirmasi. Begitu saja, bersama hujan itu, Rakhi mulai tersenyum mengingat perempuan itu, yang tentu saja ia sangat tunggu untuk bisa beretmu lagi di esok hari atau lusa datang. Mungkin jika Rakhi menjadi perempuan itu, ia akan melakukan pertimbangan yang sama ketika melihat orang yang sedang ia hadapi adalah orang semacam Rakhi, yang tak beradab, tak punya aturan. Rakhi tertawa. Dan hujan datang kian ramai. 

berlanjut~
Itu adalah hari dimana kamu akan melihat akhir napasmu, dekat, dekat sekali, seperti sebuah kematian. Itu adalah hari dimana bimbangmu menjadi-jadi tentang esok, apakah masih bisa Berjaya, atau terkubur dengan tanah. Hari-hari dimana cemasmu melebihi senangmu, dimana kekhawatiranmu menjadi sebuah raja didalam pikiranmu, mengagung, mengkristal. Atau kamu lihat sekelilingmu, untuk memeriksa darimana malaikat datang, pintu beranda depan atau langsung berada dihadapanmu. Atau kamu mengingat-ngingat dosamu yang luas, meminta seluas mungkin, namun mengadu di sujud selama lima kali saja kau jarang laksanakan. Hari dimana langit-langit seperti berubah arah, matahari seperti meluas, berubah hasrat, memanas, membunuh, menghilangkan rasa bahagia. Adalah hari dimana kamu hanya bisa bertumpu pada sebuah selang di atas yang menggantung, dimasukan dalam denyut-denyut nadimu, hari dimana kawan-kawanmu silih datang menengokmu, memberimu do’a, memberimu semangat, menguatkan sekuat langit memeberi berkah. Atau kamu bisa melihat kiri-kananmu yang ada hanya, buah-buahan, obat, atau sepiring nasi lengkap sayur yang rasanya sungguh pahit. Tubuhmu lemas, selemas-lemasnya, sehancur-hancurnya, seakan mimpi-mimpimu akan tertutup oleh hari itu, seakan tak ada harapan untuk memperpanjangnya. 

Ya Tuhanku, aku ini adalah apa? Mengapa begini saja menjadi putus asa, lalu kamu buka tirai disampingmu, melihat satu pasien yang umurnya lebih tua darimu, muda, tampan, tapi sama sekali tak ada raut sedih di wajahnya, padahal sedari tadi alat kelaminnya telah dimasukan selang untuk buang air kecil, padahal barusan saja kakinya diamputasi, padahal barusan saja kawan-kawannya meninggalkannya dan menguatkannya. Tapi parasnya tetap tersenyum lembut, ketika kusapa

您好?”

你好” sambil tersenyum lebar.

Kututup lagi tiraiku, apalah aku barusan tadi, membuat sebuah penilaian kepada diriku bahwa ini akan berakhir begitu cepat di masa mudaku. Kulihat lagi sekujur tubuhku, lengkap, tapi isak tangisku tak kunjung-kunjung selesai ketika mengetahui sebuah penyakit yang hinggap ditubuhku. Cemen.  Apalah aku tadi barusan, ya Tuhan. Menjadi pesimis akan sebuah keadilan, menjadi layu dalam sekerumunan manusia, menjadi tak berdaya ketika kawan-kawan menjengukku padahal dulu akulah yang sering menghibur mereka.

Kulihat lagi mesin disampingku, mesin yang menentukan denyut jantungku, tubuhku sekarang sudah lengkap dengan temple-tempelan oval yang sesudahnya adalah kabel untuk memeriksa detak jantungku. 



Sekarang kubuka lagi tirai itu, lalu kulihat lagi ia tersenyum, mungkin ada dua kemungkinan, ia sangat senang bertemu warga beda negera atau memang ia sekuat itu untuk menghadapi semuanya. Bahkan sekarang jika kupikir, dia sudah tak bisa lagi bermain bola, mencoba lari dengan sekencang-kencangnya, atau mengikuti olahraga renang.

Why you always smile?Now, you haven’t a leg” .

Dia hanya tersenyum, lalu berbicara dengan terbata-bata.

“You must be strong, brother”.

Jadi, ketika kuterpuruk sejauh ini,  kuingat lagi lelaki tampan tanpa kaki itu yang barusan saja ditutup dengan kain dan dipindahkan ke ruang mayat karena sebuah penyakit yang tak bisa kujelaskan.
Itu adalah Lawang Cafe, sebuah kafe yang klasik degan warna hitam elegan sebagai kulit luarnya, tempat dimana jika malam datang, akan ramai riuh dengan live music atau Disc Jookie. Aku memasukinya bersama perempuan yang sedari tadi senyum melulu, entah kenapa. Hari itu ia sangat anggun dengan nuansa batik di kaos yang ia kenakan, belum lagi ditambah senyumnya, yang bisa membuat debar di hati semakin menjadi-jadi. Matahari masih berwaspada menjaga bumi, sinarnya lenggam membakar kulit sedikit demi sedikit, itu adalah siang bolong, dan kafe yang sangat kosong ketika kami kunjungi.

Seorang waitress perempuan datang menghampiri kami, roknya sangat mini, seperti sengaja memamerkan kulitnya yang putih. Ia membawa sebuah buku menu yang berwarna hitam, aku bertanya kepada perempuan yang duduk disampingku.

“Kamu mau makan gak?” kataku

“enggak aku lagi diet, makannya cuma pagi dan sore doang, minum aja”

“Yaudah, mau mesen minum apa?”

“Green tea aja”

Lalu aku memesan satu gelas Green tea dan Espresso. Selepas itu, waitress pergi meninggalkan kami berdua yang entah ingin mulai darimana. Aku diam, perempuan itu mulai mengeluarkan handphone dan memainkannya. Kursi berjajar kosong, hampa, sepi, hanya ada sayup-sayup angin berlalu. Sesekali kulihat jam, bak menertawakan kami karena tak tahu ingin berbicara apa. Ubun-ubun di kepalaku sudah mulai pecah, dengan ribuan pertanyaan, tapi mengapa sulit sekali untuk mengatakannya.

“Jadi awal agustus kamu sudah mulai praktikum kuliah?” kataku memberanikan diri.

“Iya, kita bakal jauh dong yaa”.

Debar jantung semakin lincah, kencang, seperti ingin lepas dari sarang, mendengar perempuan itu berkata seperti itu. Kami diam kembali, pelan-pelan kutatap matanya, cantik, damai, seperti Bandung malam disaat hujan datang. Bibirnya mulai tersenyum, dan matanya mulai memalingkan penglihatanya kepadaku, seperti malu. Kamu mungkin akan setuju denganku, bahwa senyumnya ini tercipta dari serbuk cahaya sejuk yang digadang-gadang sebagai obat rindu.

“Jangan nantap begitu, atuh, bu”

Aku tertawa sebentar.

“Oh iya ini hadiah yang kujanjikan kemarin di chat” kataku sambil mengeluarkan selembar kertas yang telah kulipat-lipat rapi dan kusemprot dengan minyak wangi ibuku.

“jangan dibuka di sini, nanti saja di rumah, aku malu”

Namun ia malah semena-mena, membuka-buka perlahan sambil tertawa terkekeh.

“eh jangan, nanti aja di rumah”  lalu pesanan kami datang.

“Makasih ya, mbak”.

Kertas itu akhirnya ia lekaskan masuk ke dalam tasnya. Kami kembali diam, dengan suara pengiring music sudah mulai, lalu mulailah datang satu persatu manusia. Seraya dengan itu, perempuan itu memulai pembicaraan, kami pun nyaman, ngalor-ngidul, apapun kami bicarakan tanpa perlu malu-malu. Lalu dia meminum green tea yang sangat menggoda itu, kulihat lagi parasnya saat memegang gelas, meminum, dan menaruh kembali gelas itu, begitu memesona, hanya dengan hal sederhana itu, aku semakin jatuh hati dengannya, semakin menggebu-gebu perasaanku, lalu membumbung lari ke langit.

“Kuingatkan..” kataku.

“iya?”

“Aku tak ahli dalam hal ini.” aku jeda, kudiam kembali, lalu mulai menatap mata lembut itu, dia pun diam memerhatikan.

“membawakan kau bunga atau memegang tanganmu erat”  Aku tatap lagi matanya, merasuki apa yang membuat sebegitu damai di dalamnya.

“aku bahkan mungkin akan melupakan hari ulang tahunmu” dia diam, ice cream di atas esspreso-ku mulai mencair.

“tapi, jika aku harus melalukan ini dengan seseorang”

“Sebaiknya, seseorang itu adalah dirimu”

Tiba-tiba senyum itu mulai muncul perlahan, lalu perempuan itu tertawa kecil, semakin berkembang biak, lalu tertawa lepas, dan ia diam kembali. Aku senewen, aku ikut saja tertawa. Terkadang, ia bisa menjadi perempuan yang sangat menyebalkan, pecicilan, tapi entah mengapa itu adalah daya tariknya, yang membuatku semakin sayang saja. 

“kamu nembak aku?” katanya

“iya”.

“Nanti kujawab, pas di jalan”

Kami kembali berbicara, entah apa yang kami bicarakan, seperti tidak ada habisnya.

“Mbak?” lalu kupanggil kembali waitress.

“mau apa lagi panggil pelayan? Eh?” kata perempuan itu.

“Aku mau minta voting” kataku

“tadi barusan aku nembak dia, menurut mbak diterima atau enggak?” kataku degan sneyum

“diterima dong” Pelayan itu langsung tersenyum sangat lebar, mungkin ia baru saja menemui manusia yang membuat onar dengan bertanya seperti itu, tidak memenuhi standar pengunjung kafe. Memalukan.

“Makasih mbak, aku tambah air mineral ya, tapi gak dingin” kataku, dan dengan itu, ia kembali pergi ke meja hitam dengan tulisan waitress di atasnya.

Perempuan disampingku malah tertawa sangat lepas, dengan perlahan-lahan menutup wajahnya.

“kamu ih, malu-maluin, hahahha” katanya.

“itu kan voting, maaf ya hahah”

Ia malah menyetuh tanganku, lalu menyubitnya dengan pelan. Tidak sakit, malah ingin lagi.

Aku langsung membayar minuman ke kasir dan mengajak perempuan itu untuk berjalan-jalan. Waktu sudah sore kala itu, suara gas mobil berkeliaran kesana-kemari, laun angin selatan berhembus dengan dingin lalu pergi lepas menuju barat, kadangkala siul burung berbunyi, membangunkan bunga-bunga yang bermekaran, atau sesekali derai daun turun menuju bumi, berguguran dengan senyap. Aku mengajak ia pergi, entah kemana. Seperti motorku yang membawa diri kami untuk berjalan.

“kamu mau kemana, sih?” katanya

“aku mau memamerkan ke dunia, tapi kali ini di Karawang dulu”.

“mamerin apa sih?”

“Bahwa di atas motor ini ada dua orang yang sedang jatuh hati dan bahagia”.

Lalu ia tesipu malu, senyum, dan menyubit punggungku.

Entah bagaimana, aku tak pernah tahu esensi jatuh cinta, tentang bagaimana itu terjadi. Namun yang ada di detik ini adalah sebuah kebahagian yang lengkap, yang menutupi segala sedih dan kekhawatiran. Yang menutupi api-api kemarahan, memekarkan angkasa pikiran untuk bepikir, dan begitu juga dengan debar-debar yang terjadi. Ini, adalah jatuh hati terhebat yang pernah kurasakan.

Motor tetap melaju, kembali ke rumah perempuan itu, siang tadi sebelum kami pergi ke kafe, aku sudah meminta izin kepada Ibunya untuk menculik putrinya, dan Beliau mengizinkan tapi tidak boleh terlalu larut malam. Perempuan itu turun dari motorku, dan seperti ingin berbicara lagi denganku. Sebenarnya, aku sudah pesimis melulu, karena tak ada jawaban dari dia, mungkin ia hanya menganggap siang itu adalah sebuah mozaik yang indah dikenang, atau mungkin, ia menganggapku sebagai teman yang sangat baik karena sudah menraktik tea.

“Bagaimana jawabanya?” kataku, ia malah tertawa lagi.

Aku mulai melajukan motor, dan menandakan bahwa tawa itu adalah tidak, tidak ada jawaban.

“Iya” lalu ia masuk ke dalam rumah dengan senyum.

Meninggalkan aku di atas motor dengan rasa bahagia yang meraung-raung, dengan rasa kasih sayang yang begitu luarbiasa.

“Terimakasih. Assalamu’alaikum” kataku

Lalu kulajukan motor dengan menghirup aroma senang di sekitar, sore itu kamu membuat aku jadi sinting di atas motor, aku menjadi seperti tidak waras, bernyanyi-nyanyi sendiri, memanggil-manggil orang tanpa tahu namanya. Ah, Apakah jatuh cinta adalah jalan tercepat menuju ketidakwarasan?


Tapi kamu, tetaplah kamu, yang menjadi pelengkap senja yang indah itu