20 tahun yang lalu

Pada hari ini, tuan, puan aku ingin memperkenalkan sekitarku yang sekarang sedang bersamaku di umur yang meraih kepala dua. Di ruang senat atau biasa kau sebut organisasi mahasiswa, aku sedang berempat dengan Bang Doyok, manusia seperti manusia biasa saja yang banyak membawa hijau dikantungnya, kemana-mana ia akan bertemu banyak teman mempermudahkanya dalam transaksi, sering kami bilang bahwa ia adalah sales executive pada penghijauan yang berhalusinasi, wajahnya selalu merasa kantuk, mata beratnya berbentuk hitam pekat dibawahnya, seperti kantung kangguru yang sudah bablas, hampir jebol. Di sampingku, aku bersama mahkluk hidup, bernama Arcel, ia Ketua senat mahasiswa kami, wajahnya mirip sekali Mr. Bean jikalau sedang tersenyum lebar macam  orang tak bersalah dan tak tahu apa-apa, kami sering kesal dengan apa yang membuat wajah Arcel macam itu, kenapa harus begitu wajahnya? O, aku lupa, itu kan perpaduan orang tuanya, biarlah urusan mereka. Sebab wajah juga ciptaan Tuhan. Ashoy.  Dan yang dujung sana ada Fidi dalam aksen sunda mungkin akan kehilangan huruf F nya dan dianulir menjadi Pidi, badan kecil minta ampun, sama seperti Bang Doyok mereka selalu kami bilang tinggal kentut dan tulang di dalam tubuhnya itu. Jalan melayang-layang kalau kemana-mana, tulangnya hampir hilang sedikit lagi. 

Saban hari, aktivitasku akan seperti hal sama dengan apa yang kau jumpai dengan aku di masa lalu, tapi kini beda peran-peran disekitarku, aku hampir mengira orang-orang disekitarku mendapatkan peran antagonis untuk merusak hidupku, merusak masa depanku, aku sempat membuat banyak pilihan selama aku ngampus di Jakarta, untuk mengindari pergaulan-pergaulan yang bengal di kampus, aku coba ambil peran Kupu-kupu dalam sisi baik mahasiswa, acuh sekali sama rakyat-rakyat terjajah, acuh sama sekali dengan  pergerakan-pergerakan mahasiswa yang sedang berjuang akan keadilan di negeri ini. Pokoknya aku ingin kuliah saja. 

Namun, lambat laun, hari berguling ke pada suatu posisi dimana diriku malah terjun (kembali) pada organisasi, organisasi yang mungkin sedikit beda, dengan yang pernah aku alami selama menjadi siswa di Karawang. Malah makin ngacok. Aku berani-berani mencalonkan menjadi ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). Dan nasib membawa aku kesini, mendapat amanah dari apa yang sudah aku calonkan. Tuan, puan. Aku semakin mempersempit hidupku untuk terjun pada peran antagonis di dunia ini, menemui pelbagai hal yang buruk dalam hidup, menemui anggur merah, vodka, atau hal memabukkannya, berkenalan dengan apa yang menggarisbawahi apa itu putih atau hijau dalam makna sebenarnya, menejernihkan mata untuk menyaksikan wanita-wanita tanpa perawannya untuk siap dipakai setiap malam. O, Tuhan, pikiranku jauh sekali ya kesana? Ternyata apa yang barusan aku sebut adalah nihil, memang sebagian aku temui tapi sama sekali oknum-oknum tersebut tidak memaksa diriku untuk melakukan hal buruk-buruk seperti yang kubayangkan.

“Pilih hidup lu, berkenal dengan orang seperti kita semua, itu perlu, tapi jangan terejerumus kalau memang elu gak suka” makhluk antah-berantah pernah berpesan itu padaku di jakarta.
O, Tuhan. 20 tahun lalu aku masih mengenal bumi dari doa-doa yang sering dilafalkan oleh ibu dan ayah, beranjak mengenal diksi demi diksi dari tiap pelajaran yang beliau sampaikan tanpa perlu mirip buku beliau ajarkan aku untuk tetap pada tiang agamaku, untuk tetap berbaur dengan sesama,  jangan individualis, tetap terjun kepada  teman siapapun itu dia, darimanapun suku dan rasnya. Agar tetap bertoleransi. 

Sampai pada hari ini, aku yakin sebagian kecil mimpi-mimpiku sudah banyak yang kuraih, dari hal-hal kecil sampai hal yang tak dinyana bahwa itu akan terwujud. Sebagian kecilnya masih ada yang belum terjamah oleh nalarku, atau sisanya sudah berlalu mungkin sudah aku kubur jauh-jauh sebagai suatau harapan yang pupus, tapi setidaknya aku senang punya mimpi sebesar dan tidak wajar macam itu. 

20 tahun lalu

Ketika aku masih duduk di bangku SMP untuk membolos demi melaksankan ibadah bermain point blank di warnet saban hari sampai lupa bahwa aku sedang bersekolah. Masihku ingat pula, aku melakukan kenalan pertamaku di bangku SMP yang mungkin banyaknya siswa SMP pada zamannya sudah pernah melakukannya tanpa kuberitahu. Tahun beputar jauh, isinya tetap kosong ternyata tahun hanya diisi oleh waktu-waktu yang mengabdikan diri untuk keabadian yang nihil atau mungkin fana. 
Aku beranjak melewati masa kejayaanku untuk bergelora di bangku SMK. Mulai kubangkitkan arstiek mimpiku dari tembok-tembok teknik kejuruan, aku tak menyangka akan sekeras ini dan bersumpah akan tidak menjadi lembek dalam setiap episode yang akan kujalani nanti. SMK, aku sibukan diriku untuk ikut aktifitas sana sini, ikut OSIS, ikut teater atau ikut-ikutan orang ngerumpi. Ah, pokoknya itu zaman kejayaan yang akan kukenag hal-hal baiknya bila nanti sudah pindah ruang dimana tak ada okisgen kembali.

20 tahun akan mendatang

Tuan, puan, saksikan apa yang akan kuhadapin diumurku nanti mungkin di 40 tahun, mungkin beberapa tahun yang akan datang. Akan banyak manusia-manusia yang akan kutemui, mungkin membawa peran baru dalam hidupku yang meberi hikmah & makna yang lebih dalam di sisinya. Masih banyak mimpi-mimpi yang berotasi dalam pikiranku, satu persatu ia sedang menjelma menjadi olahan-olahan kemajemukan yang siap dipecahkan pada waktunya. Mimpi-mimpi itu kini silih berganti sedang siap untuk diluangkan dan diudarakan secepatmungkin olehku.

Tuan dan puan. Saksiskan. Doakan. 

Pemimpi ulung ini. Semua dimulai dari tidur.

Ayok, bang, 2 jam di mobil, 500rb aja” 

itu adalah tukang gojek dibelakangku, yang barusan menawarkan cewek sewaan di Jakarta. Oh, kawan tentu aku akan ditawarkan seperti itu, sebab ini sudah jam 1 malam, maksudku pagi. Sebentar lagi kau akan lihat ada ayam berkokok, ada akan adzan, ada matahari yang mulai muncul. Tapi itu adalah aku dan kawan-kawanku, yang sedang mencoba membuat malam lebih inovatif dari biasanya, ya kami berlima coba JJM(Jalan-jalan Malam) di Jakarta. Rutenya adalah mengikuti arah angin, dan kemauan Arif, teman sekelasku membawa kami kemana saja ia mau. Sebab ia adalah kuncen Jakarta, yang berdiam di utaranya Jakarta, wilayah Jakarta paling ngeri.

Sehabis makan nasi perang di daerah tanah tinggi, yang bisa dibilang daerah penuh dengan kepadatan penduduk macam semut bertumpuk-tumpuk berusaha ambil gula di atas meja, disana kalau kau keluar rumah pasti akan ada sepeda yang teriak “misi dong bang” karena sempitnya jalan, O, Jakarta kenapa marak sekali manusia yang ingin menduduki, menempati, membuang lendir-lendir di bagian tubuhmu atau bahkan hanya semata berfoya-foya denganmu. Di tanah tinggi aku makan nasi perang bersama kawan-kawanku, itu bukan kebiasaan kami makan seperti itu, dan bukan kebiasaan kami pula untuk berofya-foya makan junkfood di resotran ternama. Pokoknya kami makan, karena kami lapar dan melihat ada tukang nasi disamping kami.

“telor, ikan teri, gorengan sama kuah. Abis berapa bu?” kataku
 
“8rb aja bang” Kata ibunya.
 
harga murah meriah tak perlu pusing memikirkan kesehatan, dan itu makanan yang pernah kujumpai di Jakarta dengan formasi makananku memakai telur plus ikan teri. Aku juga tak berpikir tentang kebersihan, kesehatan, atau pengcekan apapun yang berbau kesehatan, yang penting aku makan dan laparku hilang. Sehabis makan nasi perang, sebenarnya rencana kami mau pulang ke senat mahasiswa, lalu istirahat dan tertidur pulas di senat , karena masih ada serangkain kegiatan yang harus kami jalani selama kami menjabat menjadi pengurus ormawa. Tapi entah mengapa, angin pada malam itu berkubu pada setan, hembusan udaranya lebih nyinyir dari wanita yang sedang mens manapun, otak-otak kami pun sudah pulas untuk memikirkan hal baik atau positif, akhirnya rencana untuk jalan jalan malam tetap berlanjut, dan kami menuju ke sana. Ke jalan dimana aku ikut saja. 

Jakarta begitu senyap malam itu, bagiku. Sesekali hanya kudengar motor yang sedang ngebut, mungkin dari knalpotnya aku paham, orang itu hanya ingin pamer bahwa ia bisa menarik gas sangat kencang di keadaan jalan sepi. Apa hebatnya? Bocah yang baru belajar motor pun akan melakukan hal yang sama jika jalan sepi. Atau aku hanya menemukan sudut monas yang sudah tutup gerbangnya, wah ternyata kami sudah melewat daerah Menteng, daerah dimana para pejabat dan para borjuis tinggal, yang kalau kau lihat rumahnya bisa dibangun lapangan bola kelas kabupaten di Karawang. Dari Menteng kami lurus terus dan menuju daerah cikini gondangdia yang terkenal dengan lagu dangdutnya, ah pokoknya aku lupa siapa penciptan lagu dangdut itu, tapi intinya jari bergoyang ketika mendngarkannya. Lalu tiba-tiba kami sudah di monas, di depan istana sang tuan rumah yang mungkin sedang tidur, atau pusig memikirkan rakyat yang makin kesini makin cerdas dan tangkas tentang pergerakannya yang begiti-begitu saja, hey bapak, kami disini sedang naik motor ngebut-ngebut depan rumahmu, sambil tertawa memecah malam. aku tertawa

Aku menembus malam yang mulai ganas kawan, ketika kami mulai masuk daerah Hayam wuruk, biasanya kau sebut dengan Harmoni, atau mangga besar. Daerah dimana jalan protokolnya sangat lebar dan memuaskan untuk kami yang ingin naik motor dengan tidak serius, berteriak-teriak, memecahkan malam yang hening, menegur tukang gojek di jalan, atau kadang kami lakukan seolah-olah ingin mengajak balap orang yang tidak kami kenal. Dan ketika aku memasuki Hayam wuruk, tepatnya disebrang halte buswaynya, kadang dipelataran itu aku bisa lihat segelintir orang berjualan lukisan, atau mainan. Disana pula kau akan menjupai perempuan-perempuan malam dengan pakaian ketat, menonjolkan bagian-bagian tertentu, siap di book untuk memuaskan gairah si Iminmu, make up dibuat dengan tebal seperti kami lupa bahwa mereka memang secantik itu, rok mini dibuat sedikit lebih ke atas untuk memamerkan dan menjualkan betis-betis yang tak berdosa. Di samping perempuan itu sudah tersedia motor dan pengendaranya yang siap mengantar wanita itu memenuhi panggilan-panggilanmu, bisa dibilang ojek itu adalah jokinya mereka.



Pada hayam wuruk itu aku ditawarkan oleh tukang gojek untuk belok kanan sedikit masuk ke jalan lebih kecil lagi dengan tawaran yang sudah kujelaskan dibait pertama tadi. Ya Tuhan, its firs time for me, ada orang yang menawarkan macam itu. Tapi aku bilang saja ke gojek itu

“Oke bang, gue ambil uang dulu di atm depan sana” dan sehabis itu aku belok ke kiri menemui keramaian yang lain, serta merta pulang ke kampus, ke senatku, untuk tidur. kami berpisah di jalan Hayam wuruk, karena lupa pada ngebut.

Oh malam, ini sangat inovatif sekali ide kami semua, menjelmakan kegilaan kami pada kegiatan yang di depan mata dengan mengubahnya ke dalam aktivitas yang begitu rumit dan tak dibayangkan sebelumnya
.
Jakarta semakin sunyi, aku sekarang hanya bersama tubuhku dan pikiranku. Di dalamnya terbesik satu pertanyaan kafir yang menggontai sampai sekarang 

“kenapa tidak dicoba saja ya?”

Adalah sebuah kota dimana kerumunanya layak semut berbaris, menuntut keadilan kehidupan. Dimana kau bisa memanjakan tinjamu sedikit berharga disini, dimana air manimu pun harus dibayar saat kau mengeluarkannya. Adalah Kota yang ramai dan klakson bajaj menjadi sang juara jalanan. Jakarta. Tempat dimana Tuan Kelabu tinggal, ialah Rakhi namanya. Seorang lelaki bertinggi semampai dengan hidung mancung, kulit sawo matang penuh, wajahnya tak begitu  tampan tapi dengan ia tersenyum bisa saja ia buat perempuan disekitar rela membayar senyumannya itu. Rakhi, adalah manusia yang kelabu, penuh kelabu hidupnya, tak tentu arah, lintas sana-sini, ia tak pernah punya tujuan hidup kecuali merokok dan menulis nomaden di berbagai kafe, bahkan satu setanpun tak  ada yang tahu kemana ia akan jalani hidupnya, mengakhiri dengan surga atau ingin merantau saja ke neraka. Rakhi, hanya menjalani hidupnya, menjelajahi kehidupan penuh warna ini, lebih ingin saripati hidup, yang lebih, yang banyak. Dan itulah Rakhi, Tuan Kelabu yang akan kita kisahkan dalam cerita pilu ini. Mana ada yang tahu bahagia tersdia didalamnya? Ah, kau seperti Rakhi saja, nikmati saja.

ambil darisini


Jakarta sedang mendung kala itu, awan mulai pekat mengabu, memburu manusia-manusia yang tak membawa payung atau tak ingin berteduh, sesekali petir mulai satu persatu memainkan nadanya, seperti Do Re Mi Fa So La Si Do namun dinaikan satu tingkat minor, tapi sore di Jakarta tetap seperti itu, macet berhamburan, mobil-mobil bertumpu pada padatnya jalan, terkadang klakson menyaembara kesana-kemari seperti bersafari melewati kuping-kuping manusia. Namun itu adalah sore yang tak dipedulikan oleh Rakhi, ia tak takut hujan, tak takut macet, tak takut bising dan ramai. Sebab sore itu ia akan naik busway, untuk pertama kalinya, sebab motor kesayanganya ia sudah gadaikan kepada saudagar kaya raya asal Jawa Timur yang selalu memakai gelang rantai sampai 5 tumpuk di tangan kananya, belum lagi di tangan kirinya. Bukan tanpa alasan, Rakhi menggadaikan motor itu, untuk bisa membayar uang perkuliahan, 3 bulan jangka waktunya untuk bisa menebus kembali motor kesayanganya itu, jika tidak maka motornya akan tewas melayang di saudagar kaya raya asal Jawa Timur itu.

Sambil menyalakan rokok filter yang sedari tadi ia pegang, Rakhi menyusuri garis-garis jalan itu, mengikuti marka jalan menuju halte busway, adalah tempat dimana hal yang sama terjadi seperti yang terjadi di jalan raya kini, yaitu padat. Antrian pintu masuk itu sangat padat,  padahal itu sudah menggunakan sistem tap card, mudah, dan sangat tak memerlukan tenaga. Tapi tetap saja penuh. Rakhi hanya memerhatikan sambil memainkan asap rokoknya dan mulai menyalakan rokok episode keduanya untuk menunggu antrian itu sepi melompong. Tak berapa lama, mulai mengalir dan kosong, Rakhi melakaukan tap  dan masuk, lalu ia berpikir, apa yang tadi membuat manusia-manusia tanpa nama itu lama masuk ke halte busway? Mungkinkah mereka bepikir setelah mereka tap, aka nada mesin pendorong tubuh agar terlempar ke halte busway, atau mereka berpikir akan ada koin keluar setelah tap  itu. Ah entahlah, manusia disini menurut Rakhi: terlalu peduli pada peradaban, sehingga membuat dirinya menjadi harus berpikir bahwa peradaban melulu soal kemajuan, padahal tidak semuanya seprti itu.

Rakhi adalah perokok aktif, hampir satu hari ia bisa menghabiskan satu bungkus rokok, terkadang bisa satu setengah bungkus rokok filter atau mild(jika paru-parunya mulai terasa sakit). Namun Rakhi pun menghargai lingkungan, ketika ia tahu, disekitar halte busway itu tak ada yang merokok, ia langsung mematikannya dan tak lupa membuang puntugnya itu ke tong sampah. Ia menuju ke pintu ujung dan berniat duduk pada tempat tunggu disana, namun tak lama dari langkahnya itu, kemudian seorang perempuan itu, si Nona Kemayu, tiba-tiba menduduki tempat tunggu itu, anggun nian pakaian ia kala itu, kemeja putih dengan levis putih, dibalut rambut hitam yang sengaja digerai, ditambah oleh alis tebal dan mata cokelat, di tangan kananya tersimpan satu buku seperti makalah tugas, dan pada tangan kirinya sedang sibuk memainkan iphone-nya sambil menggantungkan sebuah earphone kepada kedua kupingnya itu, kini lengkap sudah, perempuan itu menjadi perempuan ideal dambaan lelaki macam Rakhi, sepatu converse yang ia pakai sengaja diinjak ujungnya seperti  perempuan masa kini, ia menunggu di tempat pintu yang sama dengan Rakhi. Entah apa yang sedang beputar-putar pada angkasa pikiran Rakhi, ia tiba-tiba saja mulai memerhatikan perempuan berbalut penuh putih dan memesona itu, entah apa yang sedang Rakhi pandang, namun satu hal yang tak luput dari mata Rakhi ketika melihat permepuan itu: adalah kalung salib yesus yang ia gantungkan pada lehernya.

Lalu, tiba-tiba dengan berani dan rasa penuh nekad, Rakhi  hampiri perempuan itu dengan lantang dan tegak berjalan lurus, karena Rakhi tahu ia sedang mendengarkan musik, maka sebelum memulai obrolan alangkah baiknya Rakhi sedikit menyentuh seperti menegor perempuan itu, lalu menyapa:

“Hey,kau tak pengap?” kata Rakhi sambil tersenyum penuh kecut.

“hah?” perempuan itu memastikan siapa yang barusan mengajak ngobrolnya, mungkinkah teman laman atau teman satu kampus?

“iya, kamu tak pengap?” Rakhi mengulang lagi pertanyaan itu sambil sedikit memulai senyuman klasik para lelaki

“maksudnya? Aku tak pengap, pengap kenapa emang?” Dasar nona kemayu, ia mulai meladeni lelaki kelabu itu.

“Bukannya kamu habis keluar dari karung Santa Clause?” Rakhi ketawa rintih

“Hah? Maksudnya, aku ini mukjizat?” Permepuan itu mulai tertawa sedikit, tak banyak

“iya semacam itu lah” Rakhi sambil sedikit tertawa.

“Kau kenapa sangat cantik, nona?” Rakhi menambahkan.

“hah nona?” Perempuan yang barsusan dipanggil Nona oleh Rakhi itu tertawa, dan mulai merah memalu

“boleh hari minggu, kuantar kau ke geraja?”

“Memangnya kita satu gereja?” kata perempuan itu sedikit bingung

“Tidak, aku ini muslim, tapi mengantar orang berbibadah itu kebaikan, bukan?” tambah Rakhi

“biar kau beribadah, dan aku beribadah juga di rumah Tuhanku, dekat gerejamu” tambah Rakhi lagi

“Maksudmu di  masjid?”

“iya betul, nona” Rakhi mulai nyaman berbicara

“mengapa aku harus percaya kalau kamu boleh mengantarku pergi ke gereja? Siapa tahu kau penculik?” Perempuan itu menatap heran

“sebab aku telah membuatmu bahagia” Rakhi tegas menjawab

“darimana?”

“itu kamu tertawa tadi, nona”

“tertawa bukan berarti bahagia, tuan”

“tapi kita akan menuju kesana, nona”

Perempuan itu diam, seperti sedang berpikir menerima tawaran Rakhi atau tidak, sebab tak banyak orang yang dapat dipercaya di kota metropolitian macam Jakarta ini, yang kau taruh tas sebentar saja akan hilang dalam waktu hitungan detik. Tak gampang pula percaya lelaki di kota macam Jakarta ini, yang kau anggap baik dan pantas menjadi imam saja bisa-bisa ia adalah penculik moral disini. Tak gampang percaya orang disini, maka dari itu, perempuan itu diam sebentar sambil mulai memerhatikan tubuh Rakhi, melihat matanya: kosong, yakin, atau pudar tak bermakna. Perempuan itu semakin bingung ketika tahu di kantung Rakhi ada sebungkus rokok filter yang sengaja Rakhi taru disitu agar gampang ketika merokok, dan lengkap dengan koreknya. Bagi perempuan itu, lelaki merokok harkatnya mulai turun satu derajat dimata, sebab baginya mereka yang merokok adalah mereka yang mulai menuntun dirinya menuju kematian. Tapi ia lihat lagi mata Rakhi, kali ini seperti terisi, serbuk keyakinan yang sedikit mengeristal disana

“aku belum bisa jawab sekarang” perempuan itu mulai melanjutkan percakapan

“jika besok atau lusa kita bertemu lagi, maka jawabannya adalah kau boleh antarku ke gereja” tambah lagi perempaun itu

“Oke, nona” Rakhi tersenyum kuda

“Kamu ambil jurusan apa?” perempuan itu mulai penasaran. WOW!

“Arsitektur, nona. Kalau kau?”

“Aku ambil Teknik Kimia” ucap perempuan itu

“Kita satu fakultas, nona”

“Iya” tak lama busway datang.


Perempuan itu naik terlebih dahulu, dan dalam hitungan beberapa detik busway itu telah penuh dan mulai menipis oksigen bersih di dalamnya. Rakhi tak sempat naik, kuulangi lagi, Rakhi tak suka manusia yang suka berkerumun, maka ia lebih baik menunggu busway selanjutnya datang, dan perempuan itu meninggalkannya, sambil berkata: semoga kita bertemu lagi, tuan. Tentulah Rakhi tertawa, mana ada perempuan selancang dia yang berani memanggil lelaki tak bertujuan arah ini sebagai sebutan Tuan, kau pikir aku ini apa? Kata Rakhi dalam hati. Tapi itu adalah sore yang baik ketika hujan sudah mulai turun hilir demi hilir lalu menjadi hulu yang menggerentak dan ramai-ramai datangnya, tanpa ampun, tanpa konfirmasi. Begitu saja, bersama hujan itu, Rakhi mulai tersenyum mengingat perempuan itu, yang tentu saja ia sangat tunggu untuk bisa beretmu lagi di esok hari atau lusa datang. Mungkin jika Rakhi menjadi perempuan itu, ia akan melakukan pertimbangan yang sama ketika melihat orang yang sedang ia hadapi adalah orang semacam Rakhi, yang tak beradab, tak punya aturan. Rakhi tertawa. Dan hujan datang kian ramai. 

berlanjut~
Itu adalah hari dimana kamu akan melihat akhir napasmu, dekat, dekat sekali, seperti sebuah kematian. Itu adalah hari dimana bimbangmu menjadi-jadi tentang esok, apakah masih bisa Berjaya, atau terkubur dengan tanah. Hari-hari dimana cemasmu melebihi senangmu, dimana kekhawatiranmu menjadi sebuah raja didalam pikiranmu, mengagung, mengkristal. Atau kamu lihat sekelilingmu, untuk memeriksa darimana malaikat datang, pintu beranda depan atau langsung berada dihadapanmu. Atau kamu mengingat-ngingat dosamu yang luas, meminta seluas mungkin, namun mengadu di sujud selama lima kali saja kau jarang laksanakan. Hari dimana langit-langit seperti berubah arah, matahari seperti meluas, berubah hasrat, memanas, membunuh, menghilangkan rasa bahagia. Adalah hari dimana kamu hanya bisa bertumpu pada sebuah selang di atas yang menggantung, dimasukan dalam denyut-denyut nadimu, hari dimana kawan-kawanmu silih datang menengokmu, memberimu do’a, memberimu semangat, menguatkan sekuat langit memeberi berkah. Atau kamu bisa melihat kiri-kananmu yang ada hanya, buah-buahan, obat, atau sepiring nasi lengkap sayur yang rasanya sungguh pahit. Tubuhmu lemas, selemas-lemasnya, sehancur-hancurnya, seakan mimpi-mimpimu akan tertutup oleh hari itu, seakan tak ada harapan untuk memperpanjangnya. 

Ya Tuhanku, aku ini adalah apa? Mengapa begini saja menjadi putus asa, lalu kamu buka tirai disampingmu, melihat satu pasien yang umurnya lebih tua darimu, muda, tampan, tapi sama sekali tak ada raut sedih di wajahnya, padahal sedari tadi alat kelaminnya telah dimasukan selang untuk buang air kecil, padahal barusan saja kakinya diamputasi, padahal barusan saja kawan-kawannya meninggalkannya dan menguatkannya. Tapi parasnya tetap tersenyum lembut, ketika kusapa

您好?”

你好” sambil tersenyum lebar.

Kututup lagi tiraiku, apalah aku barusan tadi, membuat sebuah penilaian kepada diriku bahwa ini akan berakhir begitu cepat di masa mudaku. Kulihat lagi sekujur tubuhku, lengkap, tapi isak tangisku tak kunjung-kunjung selesai ketika mengetahui sebuah penyakit yang hinggap ditubuhku. Cemen.  Apalah aku tadi barusan, ya Tuhan. Menjadi pesimis akan sebuah keadilan, menjadi layu dalam sekerumunan manusia, menjadi tak berdaya ketika kawan-kawan menjengukku padahal dulu akulah yang sering menghibur mereka.

Kulihat lagi mesin disampingku, mesin yang menentukan denyut jantungku, tubuhku sekarang sudah lengkap dengan temple-tempelan oval yang sesudahnya adalah kabel untuk memeriksa detak jantungku. 



Sekarang kubuka lagi tirai itu, lalu kulihat lagi ia tersenyum, mungkin ada dua kemungkinan, ia sangat senang bertemu warga beda negera atau memang ia sekuat itu untuk menghadapi semuanya. Bahkan sekarang jika kupikir, dia sudah tak bisa lagi bermain bola, mencoba lari dengan sekencang-kencangnya, atau mengikuti olahraga renang.

Why you always smile?Now, you haven’t a leg” .

Dia hanya tersenyum, lalu berbicara dengan terbata-bata.

“You must be strong, brother”.

Jadi, ketika kuterpuruk sejauh ini,  kuingat lagi lelaki tampan tanpa kaki itu yang barusan saja ditutup dengan kain dan dipindahkan ke ruang mayat karena sebuah penyakit yang tak bisa kujelaskan.