Adalah sebuah kota dimana kerumunanya layak semut berbaris, menuntut keadilan kehidupan. Dimana kau bisa memanjakan tinjamu sedikit berharga disini, dimana air manimu pun harus dibayar saat kau mengeluarkannya. Adalah Kota yang ramai dan klakson bajaj menjadi sang juara jalanan. Jakarta. Tempat dimana Tuan Kelabu tinggal, ialah Rakhi namanya. Seorang lelaki bertinggi semampai dengan hidung mancung, kulit sawo matang penuh, wajahnya tak begitu  tampan tapi dengan ia tersenyum bisa saja ia buat perempuan disekitar rela membayar senyumannya itu. Rakhi, adalah manusia yang kelabu, penuh kelabu hidupnya, tak tentu arah, lintas sana-sini, ia tak pernah punya tujuan hidup kecuali merokok dan menulis nomaden di berbagai kafe, bahkan satu setanpun tak  ada yang tahu kemana ia akan jalani hidupnya, mengakhiri dengan surga atau ingin merantau saja ke neraka. Rakhi, hanya menjalani hidupnya, menjelajahi kehidupan penuh warna ini, lebih ingin saripati hidup, yang lebih, yang banyak. Dan itulah Rakhi, Tuan Kelabu yang akan kita kisahkan dalam cerita pilu ini. Mana ada yang tahu bahagia tersdia didalamnya? Ah, kau seperti Rakhi saja, nikmati saja.

ambil darisini


Jakarta sedang mendung kala itu, awan mulai pekat mengabu, memburu manusia-manusia yang tak membawa payung atau tak ingin berteduh, sesekali petir mulai satu persatu memainkan nadanya, seperti Do Re Mi Fa So La Si Do namun dinaikan satu tingkat minor, tapi sore di Jakarta tetap seperti itu, macet berhamburan, mobil-mobil bertumpu pada padatnya jalan, terkadang klakson menyaembara kesana-kemari seperti bersafari melewati kuping-kuping manusia. Namun itu adalah sore yang tak dipedulikan oleh Rakhi, ia tak takut hujan, tak takut macet, tak takut bising dan ramai. Sebab sore itu ia akan naik busway, untuk pertama kalinya, sebab motor kesayanganya ia sudah gadaikan kepada saudagar kaya raya asal Jawa Timur yang selalu memakai gelang rantai sampai 5 tumpuk di tangan kananya, belum lagi di tangan kirinya. Bukan tanpa alasan, Rakhi menggadaikan motor itu, untuk bisa membayar uang perkuliahan, 3 bulan jangka waktunya untuk bisa menebus kembali motor kesayanganya itu, jika tidak maka motornya akan tewas melayang di saudagar kaya raya asal Jawa Timur itu.

Sambil menyalakan rokok filter yang sedari tadi ia pegang, Rakhi menyusuri garis-garis jalan itu, mengikuti marka jalan menuju halte busway, adalah tempat dimana hal yang sama terjadi seperti yang terjadi di jalan raya kini, yaitu padat. Antrian pintu masuk itu sangat padat,  padahal itu sudah menggunakan sistem tap card, mudah, dan sangat tak memerlukan tenaga. Tapi tetap saja penuh. Rakhi hanya memerhatikan sambil memainkan asap rokoknya dan mulai menyalakan rokok episode keduanya untuk menunggu antrian itu sepi melompong. Tak berapa lama, mulai mengalir dan kosong, Rakhi melakaukan tap  dan masuk, lalu ia berpikir, apa yang tadi membuat manusia-manusia tanpa nama itu lama masuk ke halte busway? Mungkinkah mereka bepikir setelah mereka tap, aka nada mesin pendorong tubuh agar terlempar ke halte busway, atau mereka berpikir akan ada koin keluar setelah tap  itu. Ah entahlah, manusia disini menurut Rakhi: terlalu peduli pada peradaban, sehingga membuat dirinya menjadi harus berpikir bahwa peradaban melulu soal kemajuan, padahal tidak semuanya seprti itu.

Rakhi adalah perokok aktif, hampir satu hari ia bisa menghabiskan satu bungkus rokok, terkadang bisa satu setengah bungkus rokok filter atau mild(jika paru-parunya mulai terasa sakit). Namun Rakhi pun menghargai lingkungan, ketika ia tahu, disekitar halte busway itu tak ada yang merokok, ia langsung mematikannya dan tak lupa membuang puntugnya itu ke tong sampah. Ia menuju ke pintu ujung dan berniat duduk pada tempat tunggu disana, namun tak lama dari langkahnya itu, kemudian seorang perempuan itu, si Nona Kemayu, tiba-tiba menduduki tempat tunggu itu, anggun nian pakaian ia kala itu, kemeja putih dengan levis putih, dibalut rambut hitam yang sengaja digerai, ditambah oleh alis tebal dan mata cokelat, di tangan kananya tersimpan satu buku seperti makalah tugas, dan pada tangan kirinya sedang sibuk memainkan iphone-nya sambil menggantungkan sebuah earphone kepada kedua kupingnya itu, kini lengkap sudah, perempuan itu menjadi perempuan ideal dambaan lelaki macam Rakhi, sepatu converse yang ia pakai sengaja diinjak ujungnya seperti  perempuan masa kini, ia menunggu di tempat pintu yang sama dengan Rakhi. Entah apa yang sedang beputar-putar pada angkasa pikiran Rakhi, ia tiba-tiba saja mulai memerhatikan perempuan berbalut penuh putih dan memesona itu, entah apa yang sedang Rakhi pandang, namun satu hal yang tak luput dari mata Rakhi ketika melihat permepuan itu: adalah kalung salib yesus yang ia gantungkan pada lehernya.

Lalu, tiba-tiba dengan berani dan rasa penuh nekad, Rakhi  hampiri perempuan itu dengan lantang dan tegak berjalan lurus, karena Rakhi tahu ia sedang mendengarkan musik, maka sebelum memulai obrolan alangkah baiknya Rakhi sedikit menyentuh seperti menegor perempuan itu, lalu menyapa:

“Hey,kau tak pengap?” kata Rakhi sambil tersenyum penuh kecut.

“hah?” perempuan itu memastikan siapa yang barusan mengajak ngobrolnya, mungkinkah teman laman atau teman satu kampus?

“iya, kamu tak pengap?” Rakhi mengulang lagi pertanyaan itu sambil sedikit memulai senyuman klasik para lelaki

“maksudnya? Aku tak pengap, pengap kenapa emang?” Dasar nona kemayu, ia mulai meladeni lelaki kelabu itu.

“Bukannya kamu habis keluar dari karung Santa Clause?” Rakhi ketawa rintih

“Hah? Maksudnya, aku ini mukjizat?” Permepuan itu mulai tertawa sedikit, tak banyak

“iya semacam itu lah” Rakhi sambil sedikit tertawa.

“Kau kenapa sangat cantik, nona?” Rakhi menambahkan.

“hah nona?” Perempuan yang barsusan dipanggil Nona oleh Rakhi itu tertawa, dan mulai merah memalu

“boleh hari minggu, kuantar kau ke geraja?”

“Memangnya kita satu gereja?” kata perempuan itu sedikit bingung

“Tidak, aku ini muslim, tapi mengantar orang berbibadah itu kebaikan, bukan?” tambah Rakhi

“biar kau beribadah, dan aku beribadah juga di rumah Tuhanku, dekat gerejamu” tambah Rakhi lagi

“Maksudmu di  masjid?”

“iya betul, nona” Rakhi mulai nyaman berbicara

“mengapa aku harus percaya kalau kamu boleh mengantarku pergi ke gereja? Siapa tahu kau penculik?” Perempuan itu menatap heran

“sebab aku telah membuatmu bahagia” Rakhi tegas menjawab

“darimana?”

“itu kamu tertawa tadi, nona”

“tertawa bukan berarti bahagia, tuan”

“tapi kita akan menuju kesana, nona”

Perempuan itu diam, seperti sedang berpikir menerima tawaran Rakhi atau tidak, sebab tak banyak orang yang dapat dipercaya di kota metropolitian macam Jakarta ini, yang kau taruh tas sebentar saja akan hilang dalam waktu hitungan detik. Tak gampang pula percaya lelaki di kota macam Jakarta ini, yang kau anggap baik dan pantas menjadi imam saja bisa-bisa ia adalah penculik moral disini. Tak gampang percaya orang disini, maka dari itu, perempuan itu diam sebentar sambil mulai memerhatikan tubuh Rakhi, melihat matanya: kosong, yakin, atau pudar tak bermakna. Perempuan itu semakin bingung ketika tahu di kantung Rakhi ada sebungkus rokok filter yang sengaja Rakhi taru disitu agar gampang ketika merokok, dan lengkap dengan koreknya. Bagi perempuan itu, lelaki merokok harkatnya mulai turun satu derajat dimata, sebab baginya mereka yang merokok adalah mereka yang mulai menuntun dirinya menuju kematian. Tapi ia lihat lagi mata Rakhi, kali ini seperti terisi, serbuk keyakinan yang sedikit mengeristal disana

“aku belum bisa jawab sekarang” perempuan itu mulai melanjutkan percakapan

“jika besok atau lusa kita bertemu lagi, maka jawabannya adalah kau boleh antarku ke gereja” tambah lagi perempaun itu

“Oke, nona” Rakhi tersenyum kuda

“Kamu ambil jurusan apa?” perempuan itu mulai penasaran. WOW!

“Arsitektur, nona. Kalau kau?”

“Aku ambil Teknik Kimia” ucap perempuan itu

“Kita satu fakultas, nona”

“Iya” tak lama busway datang.


Perempuan itu naik terlebih dahulu, dan dalam hitungan beberapa detik busway itu telah penuh dan mulai menipis oksigen bersih di dalamnya. Rakhi tak sempat naik, kuulangi lagi, Rakhi tak suka manusia yang suka berkerumun, maka ia lebih baik menunggu busway selanjutnya datang, dan perempuan itu meninggalkannya, sambil berkata: semoga kita bertemu lagi, tuan. Tentulah Rakhi tertawa, mana ada perempuan selancang dia yang berani memanggil lelaki tak bertujuan arah ini sebagai sebutan Tuan, kau pikir aku ini apa? Kata Rakhi dalam hati. Tapi itu adalah sore yang baik ketika hujan sudah mulai turun hilir demi hilir lalu menjadi hulu yang menggerentak dan ramai-ramai datangnya, tanpa ampun, tanpa konfirmasi. Begitu saja, bersama hujan itu, Rakhi mulai tersenyum mengingat perempuan itu, yang tentu saja ia sangat tunggu untuk bisa beretmu lagi di esok hari atau lusa datang. Mungkin jika Rakhi menjadi perempuan itu, ia akan melakukan pertimbangan yang sama ketika melihat orang yang sedang ia hadapi adalah orang semacam Rakhi, yang tak beradab, tak punya aturan. Rakhi tertawa. Dan hujan datang kian ramai. 

berlanjut~
Itu adalah hari dimana kamu akan melihat akhir napasmu, dekat, dekat sekali, seperti sebuah kematian. Itu adalah hari dimana bimbangmu menjadi-jadi tentang esok, apakah masih bisa Berjaya, atau terkubur dengan tanah. Hari-hari dimana cemasmu melebihi senangmu, dimana kekhawatiranmu menjadi sebuah raja didalam pikiranmu, mengagung, mengkristal. Atau kamu lihat sekelilingmu, untuk memeriksa darimana malaikat datang, pintu beranda depan atau langsung berada dihadapanmu. Atau kamu mengingat-ngingat dosamu yang luas, meminta seluas mungkin, namun mengadu di sujud selama lima kali saja kau jarang laksanakan. Hari dimana langit-langit seperti berubah arah, matahari seperti meluas, berubah hasrat, memanas, membunuh, menghilangkan rasa bahagia. Adalah hari dimana kamu hanya bisa bertumpu pada sebuah selang di atas yang menggantung, dimasukan dalam denyut-denyut nadimu, hari dimana kawan-kawanmu silih datang menengokmu, memberimu do’a, memberimu semangat, menguatkan sekuat langit memeberi berkah. Atau kamu bisa melihat kiri-kananmu yang ada hanya, buah-buahan, obat, atau sepiring nasi lengkap sayur yang rasanya sungguh pahit. Tubuhmu lemas, selemas-lemasnya, sehancur-hancurnya, seakan mimpi-mimpimu akan tertutup oleh hari itu, seakan tak ada harapan untuk memperpanjangnya. 

Ya Tuhanku, aku ini adalah apa? Mengapa begini saja menjadi putus asa, lalu kamu buka tirai disampingmu, melihat satu pasien yang umurnya lebih tua darimu, muda, tampan, tapi sama sekali tak ada raut sedih di wajahnya, padahal sedari tadi alat kelaminnya telah dimasukan selang untuk buang air kecil, padahal barusan saja kakinya diamputasi, padahal barusan saja kawan-kawannya meninggalkannya dan menguatkannya. Tapi parasnya tetap tersenyum lembut, ketika kusapa

您好?”

你好” sambil tersenyum lebar.

Kututup lagi tiraiku, apalah aku barusan tadi, membuat sebuah penilaian kepada diriku bahwa ini akan berakhir begitu cepat di masa mudaku. Kulihat lagi sekujur tubuhku, lengkap, tapi isak tangisku tak kunjung-kunjung selesai ketika mengetahui sebuah penyakit yang hinggap ditubuhku. Cemen.  Apalah aku tadi barusan, ya Tuhan. Menjadi pesimis akan sebuah keadilan, menjadi layu dalam sekerumunan manusia, menjadi tak berdaya ketika kawan-kawan menjengukku padahal dulu akulah yang sering menghibur mereka.

Kulihat lagi mesin disampingku, mesin yang menentukan denyut jantungku, tubuhku sekarang sudah lengkap dengan temple-tempelan oval yang sesudahnya adalah kabel untuk memeriksa detak jantungku. 



Sekarang kubuka lagi tirai itu, lalu kulihat lagi ia tersenyum, mungkin ada dua kemungkinan, ia sangat senang bertemu warga beda negera atau memang ia sekuat itu untuk menghadapi semuanya. Bahkan sekarang jika kupikir, dia sudah tak bisa lagi bermain bola, mencoba lari dengan sekencang-kencangnya, atau mengikuti olahraga renang.

Why you always smile?Now, you haven’t a leg” .

Dia hanya tersenyum, lalu berbicara dengan terbata-bata.

“You must be strong, brother”.

Jadi, ketika kuterpuruk sejauh ini,  kuingat lagi lelaki tampan tanpa kaki itu yang barusan saja ditutup dengan kain dan dipindahkan ke ruang mayat karena sebuah penyakit yang tak bisa kujelaskan.
Itu adalah Lawang Cafe, sebuah kafe yang klasik degan warna hitam elegan sebagai kulit luarnya, tempat dimana jika malam datang, akan ramai riuh dengan live music atau Disc Jookie. Aku memasukinya bersama perempuan yang sedari tadi senyum melulu, entah kenapa. Hari itu ia sangat anggun dengan nuansa batik di kaos yang ia kenakan, belum lagi ditambah senyumnya, yang bisa membuat debar di hati semakin menjadi-jadi. Matahari masih berwaspada menjaga bumi, sinarnya lenggam membakar kulit sedikit demi sedikit, itu adalah siang bolong, dan kafe yang sangat kosong ketika kami kunjungi.

Seorang waitress perempuan datang menghampiri kami, roknya sangat mini, seperti sengaja memamerkan kulitnya yang putih. Ia membawa sebuah buku menu yang berwarna hitam, aku bertanya kepada perempuan yang duduk disampingku.

“Kamu mau makan gak?” kataku

“enggak aku lagi diet, makannya cuma pagi dan sore doang, minum aja”

“Yaudah, mau mesen minum apa?”

“Green tea aja”

Lalu aku memesan satu gelas Green tea dan Espresso. Selepas itu, waitress pergi meninggalkan kami berdua yang entah ingin mulai darimana. Aku diam, perempuan itu mulai mengeluarkan handphone dan memainkannya. Kursi berjajar kosong, hampa, sepi, hanya ada sayup-sayup angin berlalu. Sesekali kulihat jam, bak menertawakan kami karena tak tahu ingin berbicara apa. Ubun-ubun di kepalaku sudah mulai pecah, dengan ribuan pertanyaan, tapi mengapa sulit sekali untuk mengatakannya.

“Jadi awal agustus kamu sudah mulai praktikum kuliah?” kataku memberanikan diri.

“Iya, kita bakal jauh dong yaa”.

Debar jantung semakin lincah, kencang, seperti ingin lepas dari sarang, mendengar perempuan itu berkata seperti itu. Kami diam kembali, pelan-pelan kutatap matanya, cantik, damai, seperti Bandung malam disaat hujan datang. Bibirnya mulai tersenyum, dan matanya mulai memalingkan penglihatanya kepadaku, seperti malu. Kamu mungkin akan setuju denganku, bahwa senyumnya ini tercipta dari serbuk cahaya sejuk yang digadang-gadang sebagai obat rindu.

“Jangan nantap begitu, atuh, bu”

Aku tertawa sebentar.

“Oh iya ini hadiah yang kujanjikan kemarin di chat” kataku sambil mengeluarkan selembar kertas yang telah kulipat-lipat rapi dan kusemprot dengan minyak wangi ibuku.

“jangan dibuka di sini, nanti saja di rumah, aku malu”

Namun ia malah semena-mena, membuka-buka perlahan sambil tertawa terkekeh.

“eh jangan, nanti aja di rumah”  lalu pesanan kami datang.

“Makasih ya, mbak”.

Kertas itu akhirnya ia lekaskan masuk ke dalam tasnya. Kami kembali diam, dengan suara pengiring music sudah mulai, lalu mulailah datang satu persatu manusia. Seraya dengan itu, perempuan itu memulai pembicaraan, kami pun nyaman, ngalor-ngidul, apapun kami bicarakan tanpa perlu malu-malu. Lalu dia meminum green tea yang sangat menggoda itu, kulihat lagi parasnya saat memegang gelas, meminum, dan menaruh kembali gelas itu, begitu memesona, hanya dengan hal sederhana itu, aku semakin jatuh hati dengannya, semakin menggebu-gebu perasaanku, lalu membumbung lari ke langit.

“Kuingatkan..” kataku.

“iya?”

“Aku tak ahli dalam hal ini.” aku jeda, kudiam kembali, lalu mulai menatap mata lembut itu, dia pun diam memerhatikan.

“membawakan kau bunga atau memegang tanganmu erat”  Aku tatap lagi matanya, merasuki apa yang membuat sebegitu damai di dalamnya.

“aku bahkan mungkin akan melupakan hari ulang tahunmu” dia diam, ice cream di atas esspreso-ku mulai mencair.

“tapi, jika aku harus melalukan ini dengan seseorang”

“Sebaiknya, seseorang itu adalah dirimu”

Tiba-tiba senyum itu mulai muncul perlahan, lalu perempuan itu tertawa kecil, semakin berkembang biak, lalu tertawa lepas, dan ia diam kembali. Aku senewen, aku ikut saja tertawa. Terkadang, ia bisa menjadi perempuan yang sangat menyebalkan, pecicilan, tapi entah mengapa itu adalah daya tariknya, yang membuatku semakin sayang saja. 

“kamu nembak aku?” katanya

“iya”.

“Nanti kujawab, pas di jalan”

Kami kembali berbicara, entah apa yang kami bicarakan, seperti tidak ada habisnya.

“Mbak?” lalu kupanggil kembali waitress.

“mau apa lagi panggil pelayan? Eh?” kata perempuan itu.

“Aku mau minta voting” kataku

“tadi barusan aku nembak dia, menurut mbak diterima atau enggak?” kataku degan sneyum

“diterima dong” Pelayan itu langsung tersenyum sangat lebar, mungkin ia baru saja menemui manusia yang membuat onar dengan bertanya seperti itu, tidak memenuhi standar pengunjung kafe. Memalukan.

“Makasih mbak, aku tambah air mineral ya, tapi gak dingin” kataku, dan dengan itu, ia kembali pergi ke meja hitam dengan tulisan waitress di atasnya.

Perempuan disampingku malah tertawa sangat lepas, dengan perlahan-lahan menutup wajahnya.

“kamu ih, malu-maluin, hahahha” katanya.

“itu kan voting, maaf ya hahah”

Ia malah menyetuh tanganku, lalu menyubitnya dengan pelan. Tidak sakit, malah ingin lagi.

Aku langsung membayar minuman ke kasir dan mengajak perempuan itu untuk berjalan-jalan. Waktu sudah sore kala itu, suara gas mobil berkeliaran kesana-kemari, laun angin selatan berhembus dengan dingin lalu pergi lepas menuju barat, kadangkala siul burung berbunyi, membangunkan bunga-bunga yang bermekaran, atau sesekali derai daun turun menuju bumi, berguguran dengan senyap. Aku mengajak ia pergi, entah kemana. Seperti motorku yang membawa diri kami untuk berjalan.

“kamu mau kemana, sih?” katanya

“aku mau memamerkan ke dunia, tapi kali ini di Karawang dulu”.

“mamerin apa sih?”

“Bahwa di atas motor ini ada dua orang yang sedang jatuh hati dan bahagia”.

Lalu ia tesipu malu, senyum, dan menyubit punggungku.

Entah bagaimana, aku tak pernah tahu esensi jatuh cinta, tentang bagaimana itu terjadi. Namun yang ada di detik ini adalah sebuah kebahagian yang lengkap, yang menutupi segala sedih dan kekhawatiran. Yang menutupi api-api kemarahan, memekarkan angkasa pikiran untuk bepikir, dan begitu juga dengan debar-debar yang terjadi. Ini, adalah jatuh hati terhebat yang pernah kurasakan.

Motor tetap melaju, kembali ke rumah perempuan itu, siang tadi sebelum kami pergi ke kafe, aku sudah meminta izin kepada Ibunya untuk menculik putrinya, dan Beliau mengizinkan tapi tidak boleh terlalu larut malam. Perempuan itu turun dari motorku, dan seperti ingin berbicara lagi denganku. Sebenarnya, aku sudah pesimis melulu, karena tak ada jawaban dari dia, mungkin ia hanya menganggap siang itu adalah sebuah mozaik yang indah dikenang, atau mungkin, ia menganggapku sebagai teman yang sangat baik karena sudah menraktik tea.

“Bagaimana jawabanya?” kataku, ia malah tertawa lagi.

Aku mulai melajukan motor, dan menandakan bahwa tawa itu adalah tidak, tidak ada jawaban.

“Iya” lalu ia masuk ke dalam rumah dengan senyum.

Meninggalkan aku di atas motor dengan rasa bahagia yang meraung-raung, dengan rasa kasih sayang yang begitu luarbiasa.

“Terimakasih. Assalamu’alaikum” kataku

Lalu kulajukan motor dengan menghirup aroma senang di sekitar, sore itu kamu membuat aku jadi sinting di atas motor, aku menjadi seperti tidak waras, bernyanyi-nyanyi sendiri, memanggil-manggil orang tanpa tahu namanya. Ah, Apakah jatuh cinta adalah jalan tercepat menuju ketidakwarasan?


Tapi kamu, tetaplah kamu, yang menjadi pelengkap senja yang indah itu
Jakarta. 1995. Dimana tahun itu Soeharto sedang merajalela mimpin Indonesia, dengan kekuasaanya 30 tahun sudah. Pada tahun yang sama, Hori sedang diam di beranda, bibirnya menggerutu tak bersuara, matanya kosong melihat hilir jalan yang sepi, satu dua mobil hanya berani lewat, sebuah kursi lapuk dengan cokelat murni sedang erat diduduki dengan penuh kenyamanan dan kebingungan. Hori baru mengundurkan dirinya dari pekerjaan sebagai satpam kelas tinggi, di sebuah Hotel berbintang empat dengan gedung berlapis baja dan lampu menari yang menyala dengan terang. Hari ini bingungnya semakin menjadi-jadi ketika sebuah pertanyaan terus menusuk terjal di lubuk hatinya, “Harus mencari pekerjaan kemana lagi di Jakarta?”. Sementara adik Hori ada delapan orang, mereka sekolah dan sebagianya masih menjalani jenjang sekolah menengah pertama. Kakak Hori mempunyai nasib yang sama dengannya kali ini karena Kakak Hori hanya tamatan SD, sungguh dimanapun kita berada jika mempunyai adik beranak-pinak banyak, sebagai yang tertua harus mengorbankan dirinya putus sekolah demi membanting tulang, mencari sesuap nasi demi adik-adik yang berwajah lugu. 

Sebuah amplop cokelat buram dengan tipe tulisan dokter di bagian luar telah lama Hori pegang, kebingungan adalah sebuah dilema, dimana hanya bisa menemukan dimensi-dimensi yang tak pasti untuk melalukan sebuah hal yang penting. Namun Hori bukanlah manusia sejuta alasan untuk menyerah sebelum berperang. Tak urung niat, kini meletup-letup semangatnya, ketika Hori melihat sang Ibunda sedang merapikan rumah beralas ubin corak abu-abu, dengan pelan-pelan sang Ibu memberi senyum kepada Hori, dan berkata
“Kondisi kamu sekarang itu gak masuk kategori emak ama babeh, cari kerja gih”.

Jakarta sedang panas-panasnya, matahari dengan perkasa menampakan tubuh bulatnya di atas sana, menghantarkan hawa panas tak berujung usai. Perkataan Emak Hori telah cukup lengkap untuk menyetil hati Hori yang sedang gundah gulana. Hori susuri sebuah jalan aspal dengan debu lengkap pada sisi kanan-kiri, ia mencari sebuah kata unggulan pemenang hatinya untuk kali ini “Ada Lowongan”, tapi saat itu Rawamangun bukanlah tempat yang tepat untuk menemukan dua kata pujaan itu.

Kenek angkot persimpangan kini telah berpenampilan seperti biasanya, handuk elegan tergelantung rapi di leher, kaos putih penuh keringat, dan celana sedikit robek. Hori menaikki angkot itu untuk mencari lowongan di Jakarta Pusat. Sebelum mengundurkan diri sebagai Satpam, teman Hori dengan takzim berpesan untuk mencari pekerjaan di Jakarta Pusat, di sebuah Restaurant Baru, dengan pizza sebagai ciri khasnya: Round Table. Di perjalanan, pikirannya tetap teraduk-aduk oleh sebuah cerkaman pahit penolakan dari Restaurant itu, sekali lagi ia rapikan kemeja putih andalannya, memeriksa apakah ada kotoran atau sudah bersih mengilat. Ia periksa kembali amplop coeklat buram itu, memastikan tak ada satu huruf yang melenceng dari penjelasan tentang dirinya, Curriculum Vitae itu seperti oksigen kehidupan baginya, dan tulisan dokter hancur tak terbaca itu layaknya sebuah senjata-senjata untuk menembaki sang pewawancara agar tertarik melirik dan menerimanya.


Dan kali ini supir angkot dengan rambut acak kadul menginjak remnya dengan kencang karena seorang penumpang berteriak “kiri” dari belakang dengan keras melantang. Hori pun ikut turun, karena Round Table Restaurant tak jauh jaraknya dari sini. Kini, rambut hitam pekatnya telah diatur gemulai serapi mungkin, parfum ia semprotkan dengan semena-mena ke bagian tubuhnya, dan senyum ciri khas yang telah lama diajarkan oleh guru ngajinya. Tak selang berapa lama, tubuhnya terhenti dengan spontan ketika melihat jelas huruf capital ROUND TABLE RESTAURANT, dan sebuah kata pujangga baginya itu telah terpampang sangat jelas disana. Seorang satpam berbaju hitam dan berbadan tegak telah menanti siapa saja yang ingin mendaftar dan megikuti interview Round Table Restaurant. Dan dengan gagah, tangan kecil Hori beradaptasi sendiri ketika melihat meja, tangan itu langsung menaruh amplop cokelat dengan lunglai dan sesuai barisannya.

Semua pelamar berkemaja putih diharapkan menunggu 30 menit lagi untuk mengikuti Interview. Jarum jam masih mengatur dirinya untuk tetap hidup mesik bergerak dengan lambat, dengan bantuan menit yang teratur sebuah jarum masih tetap berjalan, dan sang detik lari sangat cepat mengejar apa yang terjadi atau melewati hal-hal yang baru saja terjadi. Sudah 25 menit, sedikit lagi. Sedikit demi sedikit badan Hori mulai terasa dingin tak menentu, kini bulu-bulu kecil di lengannya berdiri dengan tegak, giginya mulai gemerutu tak menentu tatkala melihat waktu terus-menerus bergulir. Baginya, interview adalah hal paling kejam di dunia, buat apa bertanya tentang kehidupan dan tujuan untuk berkerja, nyatanya  ucapan-ucapan manis yang keluar dari mulut tipis hanyalah sebuah opini, karena kerja membutuhkan sebuah aksi dan pemikiran. Seraya dengan gerogi yang sedang menjadi presiden dalam konspirasi tubuhnya, seorang perempuan dari pintu utara datang dengan gemulai. Membawa tas selendang berwarna putih terang, matanya indah tak tertandingi, lebih indah dari bunga mawar sekalipun, lebih indah dari hujan yang sedang rintik sekalipun, dan potongan rambut sebahu membuat dirinya semakin manis dipandang. Linda nama gadis itu. Hori menatap erat, melekat sudah matanya kali ini dengan gerak-gerik Linda, tak perlu ditanya bagaimana reaksi Hori kala itu.

Bahkan satu setan pun tak akan bisa merasakan apa yang sedang dirasakan Hori, gerogi hilang dengan cepat terbawa angin entah kemana, keringat-keringat yang bercucuran membasahi Kemja andalan Hori telah habis, entah oleh siapa. Kini semangatnya semakin memaki-maki, membara lewat hulu api unggun terbaik, dan tak lenyap bahkan oleh air lautan sekalipun. Apa yang sedang Hori lihat adalah sebuah anugerah dari Tuhan, baginya Linda peluntur kekacuan kehidupan Hori. Linda memberi amplop cokelat dan ia mendapatkan barisan terakhir.

Wawancara sudah dimulai, satu persatu manusia masuk ke ruangan cat berwarna hijau keriput itu. Dan berbagai macam eskpresi yang terjadi setelah keluar dari ruangan kejam itu: menangis tak henti karena gugup habis-habisan, syahdu tersenyum lega, basah kuyup oleh keringat, dan atau ingin cepat-cepat ke toilet. Tiba giliran Hori, jika tadi bagaimana cara melakukan interview yang baik mengaduk-aduk pikirannya, untuk sekarang sebuah perempuan cantik berambut sebahu malah mengacak-acak habis pikirannya. Tapi entah mengapa, ini malah memberi semangat yang lebih untuk Hori, ia sangat gagah dengan bunyi sepatu pantopel yang dipakai. Ruang interview malah menjadi kelas Taman Kanak-kanak atau paling tidak SD baginya, tak ada beban untuk menjawab, tak ada rasa takut berlebih untuk membalas apa yang mereka tanyakan. Bahkan sebuah kata-kata motivasi yang ia sengaja ambil dari buku milik tetangganya, ia pakai dengan sempurna. Hori keluar dari ruangan mencekam itu dengan penuh tebaran senyum sumringah tak tertandingi.
Dan matanya kembali menatap perempuan berambut sebahu itu, Linda acuh tak tahu-menahu apa yang terjadi, mulutnya berkomat-kamit tak menentu, menghafalkan jawaban-jawaban pamungkas dari buku ampuh SUKSES INTERVIEW BERKERJA. Hori ingin menyapa Linda dengan biasa

“Asal dari mana?” atau

“Tinggal dimana?” atau yang sangat klasik

“Hai, namamu siapa?”

Tapi Hori urungkan ketika melihat Linda masuk ke ruangan mencekam itu, semua pelamar yang sudah melaksanakan interview sudah diperbolehkan pulang, Hori pun seharusnya sudah pulang sedari tadi, namun ia menunggu bagaimana ekspresi wajah anggun Linda ketika keluar dari ruang Interview, hanya untuk itu. Ruang menunggu telah kosong melompong dan Linda keluar dengan senyum lebar, Alhamdulillah terdengar sangat pelan dari mulutnya. Hori sangat senang ketika melihat Linda, meskipun ia hanya berani melihat dari kaca luar Restaurant, Linda keluar dengan cepat dari Restaurant itu seperti menghidari pertanyaan, sapaan, atau penyataan Hori. Hori pun mengurungkan niat baiknya, tetapi senang tetap membubung dalam lubuk hati. Linda hilang dari pandangan Hori hari itu, entah kemana.

Hori dengan resmi menyukai Linda dengan masih diam-diam, dengan masih malu untuk bertanya, dengan masih banyak pertanyaan-pertanyaan elegan untuknya.

Linda pulang dengan senyum terus-menerus, Hori pulang dengan akibat senyum Linda yang manis tak terkalahkan itu.
---
Seminggu berlalu, sebuah pengumuman keluar dari surat yang diantar oleh Pak Pos berkemeja jingga terang. Hori kaget terkejang, tak tahu bagaimana nasibnya kali ini, jika isi surat ini adalah hasil yang berkata sebaliknya, tangannya merinding kembali, pucuk jarinya tak sabar membuat surat itu, lalu.

SELAMAT ANDA DITERIMA

SEBAGAI KARYAWAN DI PERUSHAAN KAMI

HARAP DATANG PADA TANGGAL 10 Desember 1995.

Hatinya tumbuh bunga, berkembangbiak pada hulu kesenangan yang tak berujung, senyum lepas kini telah nampak jelas di wajah cokelatnya itu, sebuah perasaan yang dimana hanya Hori yang bisa merasakan lebih dari apapun. Surat berharga itu, Hori berikan kepada sang Ibu dengan takzim tangan kerasnya memberi lunglai dan berkata

“Alhamdulillah keterima mak, Hori dapat kerjaan lagi”

“Alhamdulillah makan dulu sono gih, ada sayur asem tuh”

“Iya mak”

Aroma sayur asam di dapur bak tarian sambutan hari bahagia ini, berarak-arak memasukin sudut lubang hidung lalu terserap mulia, pada pikiran semua begitu tergambar jelas bahwa ini sangat lezat.
Sore berlalu dengan cepat, gelap mulai jatuh membasahi lalu berubah menjadi malam, pagi bersinar kilau-kemilau dengan siulan burung dan suara lantang ayam berkokok, serta merta siang selalu terisi oleh panas yang sengaja datang untuk menghabisi kulit dengan perlahan.
Hari berlalu hari.

Dan tibalah hari pertama Hori bekerja sebagai karyawan di sebuah Restaurant, posisinya sangat menguntungkan, yaitu asisten Chef. Celemek nampak elegan berada bagus di tubuh Hori, topi koki yang sering ia lihat di televise hitam putih juragan ayam nampak gagah berdiri diatas kepalanya, dan partikel-partikel kecil lainnya yang bersemayam bersama tubuhnya sebagai asisten Chef. Ternyata tanpa dibuat-buat, Linda pun bekerja di tempat yang sama: Tebet dengan Hori namun berbeda jabatan, Linda lebih mengurus dapur untuk membuat menu-menu dessert yang akan dipesan, Linda bekerja satu tim dengan Herman. Lelaki gemulai bertangan layu, body language sama seperti lelaki umumnya, namun gaya berbicaranya jauh dalam kategori lelaki, terkadang jika berbicara dengan atasan ia selalu berusaha terlihat gagah, namun jika sedang berbicara dengan Linda dan kawan lainnya malah melakukan sebaliknya.

Linda sangat jutek kepada siapapun yang belum ia kenal, ada dua alasan  ia melakukan itu. Pertama, ia berasal dari Padang nun jauh disana, menjadi perantau membuat dirinya selalu tetap waspada. Kedua, baginya jika ingin berkenalan, maka berkenalanlah dengan berani langsung dengannya. Tak bisa dipungkiri, hampir seluruh tempat bagian dapur menyukai Linda, parasnya yang lembut, cantik keluaran darah minang, dan tubuh model yang anggun. Siapa yang mau menolak diajak kencan olehnya? Presiden pun pasti ingin.

Sudah beberapa minggu bekerja di Round Table Restaurant, hati Hori selalu teriris dengan lelaki yang menyukai Linda, mereka adalah lelaki pemberani dalam setiap ucapan, sayangnya Hori hanyalah seorang pemalu dalam kumpulan pemberani, banyak kata yang susah terucap dari mulut Hori jika ingin berkenalan. Namun puluhan orang sudah banyak yang mendekati Linda, mulai dari seorang wartawan berwajah tampan, lelaki bermobil hitam yang bekerja sebagai manager Koran, teman-teman sepermainan di Restaurant, pemain bola unggulan, dan bahkan tukang parkir yang genit. Pernah suatu ketika Hori sedang sangat berani untuk ingin memperkenalkan dirinya kepada Linda, Hori telah bekerjasama dengan Herman untuk hal yang satu ini.

“hari ini lu masuk apa?”

“Siang, man”.

“yah, susah kalau begitu, Linda masuk malam”

“ya gak apa-apa”

“yaudah terserah lu aja”


Hari itu, setelah semua pekerjaan selesai, Hori tidak langsung pulang ke rumah, ia menuju kedai di seberang jalan untuk sekedar meminum kopi dan memesan mie ayam. Menunggu Linda, bukanlah sebuah pekerjaan, menunggu Linda adalah kesenangan yang membara, menyelimuti dirinya yang sedang hilang harapan, namun senyum Linda selalu terbayang jelas.

8 jam berlalu.

Hilir mudik karyawan lalu-lalang pulang tengah malam, Linda dan Herman pun sama berjalan anggun di rintikan hujan kala itu, Tebet sedang gerimis, buih-buih awan mulai menggempul menjadi sebuah embun, Hori bangun dari tidurnya dengan mengucek-ngucek mata, membayar apa saja yang sudah ia makan. Mencari Linda dan Herman, mencari pencuri hatinya, mencari sebuah perasaan senang jika sedang dekat. Namun ia tak menemui Linda dan Herman, sehelai bajunya pun tak ia temui. Penantian lama ini akan sia-sia jika tak menemui Linda dan Herman.


Namun di ujung persimpangan jalan, ia temukan seorang wanita berbadan anggun mempunyai rambut sebahu bersama lelaki yang sudah jelas itu adalah mereka, Linda dan Herman. Mereka sedang ingin menaikki metro mini untuk pulang, lalu dengan cepat Hori mengejar mereka, bajunya kucel habis-habisan, dengan mata yang masih mengatuk, dengan bau badan yang bahkan jika buaya mencium akan pingsan. Namun tekad tetaplah nekad, ia mengejar Linda dan Herman, memasuki metro mini itu. Linda dan Herman berada di bagian depan metro mini dengan duduk di kursi dekat supir keturunan batak. Sedangkan Hori harus berdiri berdesak-desakan di bagian belakang, kali ini Hori hanya bisa menatap punggu wanita pujaannya itu, senyum Hori tetap hidup diantara desakan manusia di metro mini pagi itu. Hori ingin memperkenalkan dirinya namun apa daya, metro mini malam itu sangatlah ramai akan karyawan yang baru pulang kerja. Malam itu Hori hanya mendapati punggung Linda, hanya mendapat sebuah penantian yang belum berbuah hasil manis, malam itu pula Herman bilang kepada Linda

“linda, lihat deh itu di belakang siapa?”

“mana, man?”

“itu yang pake baju kemeja putih.”

“oh, gak tahu man”

“dia nungguin lu mau kenelanan Lin” Linda menengok sekejap ke arah belakang, Hori tak sadar bahwa Linda melihat dirinya, karena seorang bapak-bapak sedang mendesak untuk minggir sedikit, sedangkan metro mini telah sampai pada tujuan utama.

“eh, man udah nyampe nih turun yuk” cetus Linda.


Linda dan Herman meninggalkan Hori dengan tragis. Dan Hori tetap di bus bersama perasaan-perasaan yang bercampur aduk, beranekaragam. Linda tetaplah Linda mengaduk-ngaduk pikirannya, membubung dalam langit hati sucinya, dan berkerumun pada sumber-sumber kebahagian yang ada di dunia fana ini. 

Hori tetap di Bus dengan keringat, desakan manusia, dan oksigen yang mulai tidak jernih sebab asap rokok bertebaran. Tapi itu tak apa, baginya punggung Linda adalah hal terindah untuk malam yang sayup ini. 

To be Continued