Membandunglah (bagian 1)

, , No Comments
Membandunglah

Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum
Aromanya sedang baik, tanah sehabis hujan adalah yang selalu kami sukai ketika sedang berada di Bandung. Aku sampai disana, kalau tak salah siang. Dengan berpura-pura bilang ke dia “Maaf ya kayaknyak gak jadi, ini lagi sama orang tua”. Klik. Telfon dia tutup, sepertinya  sebel. Akunya malah tertawa sambil melajukan motorku menuju Bandung, tentu saja aku cuma berpura-pura supaya seperti di film-film Holywood, aku sudah sampai di daerah Jl. Sersan bajuri, sudah dekat dengan Setiabudhi, iya, Bandung yang kami inginkan adalah setiabudhi yang sedang dingin, disana pula aku bisa memetik pepohonan rindu yang setiap bulan kutanam bibitnya. Pasundan bukan hanya tempat bagi kami, ia adalah saksi sejarah bagaiamana kami berjuang merawat rindu.

Motorku berhenti di daerah Universitas Pasundan, gang h. ridho  itu adalah gang kecil yang tak muat dimasuki oleh mobil, hanya untuk 2 motor bahkan kalau kau berjalan sedikit lagi kepenghujung jalan hanya muat untuk satu motor, sampailah aku di depan kosanya dia, sebuah gerbang hitam yang kulitnya mulai keriput berkarat, tinggal menunggu waktu untuk keropos berantakan, kosannya ada di lantai dua, dan lantai itu khusus bagi para penghuni wanita semua. Setiap kali kami berada dikosan, kami selalu membuka pintu untuk tidak terjadi fitnah dan juga untuk tidak tergoda setan kami sering mengundang temanya, si Atun  namanya. Dan aku masuk, kubuka pintunya dengan teburu-buru untuk mengangetkannya tanpa perlu ketuk  lalu mengucapkan salam. Dan dia sedang temerunggut selimutan, perempuan itu diam, matanya kaget sebentar,  kini muka cantiknya penuh dengan air yang menjadi suangai di pelupuk matanya, mukanya pun memerah sepias-piasnya ikan cupang sehabis diadu, jelek tapi masih tetap cantik, cemberut termanyu bibirnya dilipa-lipat penuh kesal. Lalu dia teriaak “aaaaaa sebeeel” sambil mengusap-ngusap air mata. Dan aku tertawa

“Gue sholat dulu, jem” kataku.

“sana lu” katanya seperti mengusir.

Selesai sholat, dia masih kesel, mukanya masih menggerutu tak menentu, itu lah sebab kenapa aku sering rindu dan kangen ke dia, jika sebalnya datang selalu bikin rindu dan ingin bertemu terus. Dia masih tiduran aja dikasurnya, dan aku dibawa maksudnya dilantai mulai menyalakan laptop untuk menonton film india judulnya “dangal”, kata banyak orang filmnya bagus dan rating sudah sampai 9.2 di imbd. Aku nonton film sambil nunggu ijem sebalnya reda. 

“Masa’ ada pacar ke bandung di diemin aja?” Kataku sambil fokus ke film.

“Bodo ah”. Sepertinya mulai permanen sebelnya

“Siapa yang bodo, jem?” kataku

“Au ah gelap” katanya

“Gak mati lampu ih jem”

“Apaansih” lalu dia menutup dirinya dengan selimut.

Aku fokus nonton film, karena memang filmnya seru, kisah tentang seorang anak perempuan kampung  yangmenjaid atlet professional gulat tingkat internasional.

“Jem, malam jadi ya ke alun-alun kota Bandung?”

“Gak tahu, gue mau rapat dulu ke Kampus, nanti pulang magrib”

“Oalah”

Habis itu ia mulai mereda, kini selimutnya sudah dibuka dan ia ikut bergabung nonton film bersamaku, kali ini mukanya mulai cerah kembali, riang kembali, mungkin karena ia sadar bahwa tak boleh mendiamkan tamu, apalagi tamunya itu pacarnya sendiri. Sekarang ia duduk disampingku, tapi tak focus dengan film, melainkan bermain dengan handphonenya. “gak suka film india” katanya begitu. Oh, yasudah selera tak bisa dipaksa-paksakan, pacaran bukan untuk saling menyamakan dengan apa yang aku suka, melainkan tetap pada apa yang aku suka dan bisa menghargai apa yang dia suka. Saling mengasihi, saling menjaga perbedaan lalu bersatu dalam padu padan, yang bernama asmara. Aku selalu suka dengan dia, meskipun kini ia tanpa memakai bedak, walau sekarang ia hanya memakai baju cokelat dan kerudung putih layaknya anak smp, imut-imut kadang beda tipis dengan amit amit. Aku selalu suka dengan dia, dari bagaimana ia berbicara, ketika ia sedang sebal menggerutu tak ada henti, saat ia menjadi pecemburu yang amatir, ia tak pernah berhasil cemburu selalu saja aku menemukan celah untuk ia tetap riang dan kembali menjadi ijem yang kusayang. Aku selalu suka dengan dia, dari bagaimana ia menjelaskan darimana dirinya, suatu hari ia pernah bercerita tentang perkuliahannya, ia ingin sekali menajdi dokter tapi kenyataan menjerumuskan dia menjadi seorang anak pangan, yang setiap hari beurusan dengan segala teknis makanan, dari bakterinya, dari pengelolanya, dan darimana saja.  Ia bercerita bahwa ia tak pernah menyesal kenapa harus berada di posisi yang sedang di jalankannya sekarang, ia selalu mensyukuri apa yang ia dapat sekarang. Aku selalu suka dengan dia ketika bercerita panjang dan lebar, dan hanya ia tuangkan kepada kuseorang. Sesederhana itu kebahagiaan kami, membuatku merasa istimewa menjadi lelakinya.

Ia pergi untuk ikut kumpulan himpunan dikampusnya. Dan aku hanya seorang diri dikosan sambil melihat balon foil ucapan HBD Ijem 20 yang pernah aku buat untuknya. Tentang ini kamu perlu tahu, malam itu aku datang seorang diri dari Jakarta, berniat menggunakan bus namun baru 20 menit sebelum berangkat aku baru mengetahui bahwa  jalan tol sedang diperbaiki dan semua bus yang berukuran lebih besar dari mobil pribadi harus melewati jalan biasa dan kemungkinan sampai di terminal leuwi panjang sekitar 6 jam bahkan mungkin lebih. Dan aku mengendurkan diri untuk menaiki bus, aku mulai cari tiket kereta, dari berbagai website yang ada tujuan terminal kota Bandung, dan semuanya kehabisan ketika aku telah periksa sekian lama. Aku pun kecewa dengan diriku sendiri yang kala itu serba melakukan sesuatu dengan konsep mendadak, semua persiapan telah ada dalam tasku, balon foil,  kado, double tip, dan yang lainnya. Tapi dengan itu, tidak menyurutkan apa yang  sedang kuperjuangkan, dengan modal nekat dan ingin mengucapkan kalimat sederhana selamat ulang tahun kepadanya, aku pergi ke Bandung naik motor dengan membawa segala macam, satu hal yang sedang kuharapkan, tak ada hujan hari itu, tak ada pula kecelakaan teknis semacam ban bocor dan pelbagai hal yang membuat terhambat perjalananku sekitar 6 jam lebih. 

Tak akan kuceritakan bagaimana aku berada dijalan ketika menuju ke Bandung, sebab tiba-tiba dengan secara tak sadar motorku sudah sampai di depan Masjid daerah kosannya, aku sudah membuat janji kongkalingkong dengan Atun, temannya. Atunlah  yang menyiapkan kue untuk itu. Malam sudah mulai beranjak, bulan sudah semkain terang, aingin mulai merubah arah dirinya, dan bintang kali ini satu persatu mulai memudar, menandakan akan turun hujan di tanah pasundan ini. Aku datang dan sampai ke kosan, dan melalukan hal yang sederhana seperti orang yang lakukan untuk mengucapkan ulang tahun kepada pacarnya, meniup api diatas lilin, berdoa sebelum meniup itu, memberi kado, berfoto-foto, memotong kue, dan mengucapkan selamat ulang tahun. Kalau kau bertanya aku menginap dimana selama bermain di kosanya, aku tak menginap satu kamar denganya, aku menginap di kamar kakaknya, mas hafis di lantai bawah. Sehabis itu adalah senyap yang berkumpul di angkasa malam itu, menjadi gumpalan yang sangat istimewa, membendung beberapa hal bahagia yang sedang kurasakan, berarak-arak menuju satu badan gelap kabut awan, dan semuanya itu dibanjurkan dalam rahmat rintik hujan, itu adalah rintiku, hujanku, hujan kami, dimana kau bisa rasakan bahagianya, bersama, selalu.



Azan sudah mulai berkemundangan, seraya aku ingin mengambil wudlu, dia pulang dari kampus
“Sholat heula, baru pergi” kataku

Nah, ini adalah perjalan pertama kami, dari sekian banyak agenda yang sudah kami buat jauh sebelum adanya hari ini. 

Bandung sedang bagus, memang rintik kecil sudah mulai menyirami Bandung yang sedang subur, seketika suasana menjadi sungguh dramatis, ada dua manusia di atas motor itu, melintasi jalan-jalan di Bandung, bersama rindu yang telah mereka tabung dan sedang mereka luangkan segalanya dalam malam itu. Kami mengitari Bandung, karena sempat tak tahu jalan, menggunakan waze tapi hanya untuk sementara karena Bandung begitu baik banyak arah tujuan yang diberikan di papan lalu lintas. Seperti biasa, yang aku lakukan adalah dengan menggeser sedikit spion kaca motor untuk bisa melihat rupa ijem ketika ia senyum, ketika ia marah gara-gara kungebut, ketika ia sebal, mukanya selalu berubah-ubah tapi itu yang selalu membuatku rindu ketika bersamanya. Malam ini, tak ada yang boleh mengganggu kami, bahkan rintik pun berhenti, ia takut menganggu asmara, sebab semua di dunia ini dicipatakan oleh itu.

Kami sampai di Alun-alun Bandung, mengitari jalan asia-afrika melihat beberapa pameran  pocong, valak, capt. America, kuntilanak dan banyak yang lainnya. Kami hanya jalan berdua, seperti semuanya milik kami, bercerita sambil berjalan, mendengarkan orang bercerita sambil mengomentarinya, duduk dipelantara asia afrika, menaku-nakutin ijem dengan pocong, menatap bunga-bungan di beranda alun-alun Masjid, memakan burger, kebab dan ketan goreng, bertanya apa saja yang biasa kami lakukan, dan melakukan banyak hal yang membuat kami merasakan bahwa kebahagiaan adalah bersumber dari kami, tak perlu dicari. Bahwa segalanya yang membuat kami riang dan sampai sejauh ini berjalan denganya adalah asmara yang kami jaga sebaik mungkin, sehebat mungkin, mengalahkan apa yang menghalangi rindu dan perasaan kami.

Lalu ia bertanya “Kalau besok kita tak menjadi kita lagi bagaimana?”

“Seperti bulan dan matahari, saling menerangi walau berbeda dimensi”kataku.

Dan dia tersenym, dan kepalanya bersandar di pundakku.

Malam itu sangat asik, tapi kami harus pulang, ternyata hujan sudah dendam kepada kami, mungkin ia cemburu dengan apa yang sedang kami lakukan malam itu, akhirnya kami kehuajanan dan lumayan basah.

~bersambung

0 Komentar:

Post a Comment